Lingga: Kalau kita habis parkir, bayar parkir. Habis makan, bayar uang makan. Lah ini ada yang diberikan ke rektor. Uang apa? Jangan ngak ngek ngok dari tadi.
Suripto: Ya misalkan seperti lebaran, gitu loh pak.
Lingga: THR?
Suripto: Ya bukan THR.
Baca juga: Dekan Terkaya di Unila Versi LHKPN
Lingga: Lalu apa?
Suripto: Yaa ee.. Uang-uang lebaran aja. Uang lebaran.
Lingga: Ada istilah baru di Indonesia, uang lebaran? Nggak ada itu pak.
Suripto: Yaa, betul yang mulia.
Lingga: Sumbernya dari mana?
Baca juga: Tiga Hal yang Ditelisik KPK Usai Periksa Dekan Unila Hingga Perawat
Suripto: Jadi, eee… kalau dikatakan sumber memang, itu kami akui salah.
Lingga: Saya tidak tanya.. Wait, wait. Nanti dulu. Jangan berbelok-belok. Saya cuman nanya. Sumbernya dari mana?
Suripto: Yang ada di BAP saya, bahwa kami bisa melakukan efisiensi kegiatan akademik dan nonakademik.
Lingga: Dari efisiensi keuangan fakultas? Iya??
Suripto: Iya, iya.
Baca juga: Permohonan Mantan Rektor Unila ke KPK: Tersangkakan Budi Sutomo!
Lingga: Kalau efisiensi berarti ini kembalinya negara pak. Bukan ke rektor. Kalau memang efisien… Oke lah, terserah lah apa bahasanya. Jadi, berapa saudara kasih?






