Singkong hingga Kakao, Lampung Kejar Nilai Tambah Lewat Hilirisasi

Singkong hingga Kakao, Lampung Kejar Nilai Tambah Lewat Hilirisasi
Mahendra Utama: Hilirisasi untuk amankan nilai jual hasil bumi Lampung. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Upaya menaikkan kelas hasil bumi Lampung mulai membuahkan hasil nyata.

Pemerintah provinsi memacu program hilirisasi untuk dua komoditas andalan, singkong dan kakao, agar tak melulu dilepas ke pasar global berupa bahan mentah.

Pemerhati perindustrian, Mahendra Utama, menilai pengolahan pasca panen adalah jalan tunggal mengamankan nilai jual.

Selama puluhan tahun, panen melimpah justru kerap memukul ekonomi petani tapak akibat minimnya daya serap industri lokal.

“Lampung adalah lumbung singkong nasional. Produksi kita menembus 7,3 juta ton, atau 70 persen dari total pasokan negara.

“Ada sekitar 500 ribu keluarga yang napas dapurnya bergantung pada ladang umbi-umbian,” kata Mahendra, Selasa, 28 Juli 2026.

Sejarah fluktuasi harga memang menjadi momok. Nilai tebas singkong pernah hancur hingga menyentuh Rp600 per kilogram.

Belakangan, pasca mediasi intensif pemerintah daerah, angka pembelian merangkak naik dan perlahan stabil di kisaran Rp2.200 per kilogram.

Agar tren positif bertahan panjang, Universitas Lampung (Unila) melangkah lebih jauh dengan meresmikan National Cassava Center pada pertengahan Juli lalu.

Pusat penelitian baru sengaja dibangun guna menyambungkan pasokan bibit unggul, seperti varietas UJ-5, Vamas-1, hingga Garuda langsung dengan kebutuhan pabrik.

Pihak rektorat menegaskan lembaga pendidikan tinggi tak lagi sekadar mengejar tumpukan jurnal ilmiah, melainkan wajib menghadirkan jalan keluar riil di lahan garapan.

Perhatian serupa turut diarahkan ke sektor perkebunan.

Dari 77.125 hektare lahan kakao di berbagai kabupaten, Lampung mampu meraup 49.605 ton biji cokelat setiap tahun dengan taksiran perputaran uang menembus Rp4,36 triliun.

Sayangnya, mayoritas komoditas bernilai tinggi masih diekspor tanpa pengolahan lanjutan.

Menambal celah ekonomi, kawasan industri kakao terpadu seluas 50 hektare mulai disiapkan di Kabupaten Lampung Timur.

Fasilitas fisik dirancang khusus untuk memproduksi lemak kakao (cocoa butter) dan bubuk cokelat murni bermutu tinggi.

Kualitas panen lokal rupanya memancing pengakuan langsung dari Managing Director PT Buhler Indonesia, Philip de Mayer.

Biji cokelat Lampung diyakini memiliki karakter cita rasa jauh lebih pekat, berani, dan khas saat dicecap.

Fakta alam membuka ruang lebar bagi pendirian fasilitas pengolahan kakao organik berbasis single origin perdana di tanah air.

Philip menyebut ekosistem utuh dari hulu ke hilir semacam luar biasa jarang ditemukan dalam peta persaingan industri perkebunan global.

Mendirikan bangunan pabrik megah rupanya baru separuh jalan.

Akademisi Ovy mengingatkan tembok terbesar justru bersumber dari kultur bertani.

Mengedukasi pekebun agar sudi dan telaten memproses biji panen lewat tahapan fermentasi standar jauh lebih berat ketimbang sekadar merombak infrastruktur fisik.

Tanpa perlakuan pascapanen presisi, mustahil bagi daerah mencetak produk akhir kelas dunia.

Mahendra sepakat utuh dengan sorotan Ovy. Ia menyimpulkan pembangunan fasilitas canggih harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan sumber daya manusia secara masif.

“Pembenahan kualitas sedari masa tanam kelak memegang kendali penuh atas daya saing produk saat bertarung bebas di pasar internasional,” pungkasnya.