Sinergi Tanggap Bencana: Langkah Gubernur Mirza dan Forkopimda Hadapi Ancaman Abu Vulkanik Anak Krakatau

Sinergi Tanggap Bencana: Langkah Gubernur Mirza dan Forkopimda Hadapi Ancaman Abu Vulkanik Anak Krakatau
Gubernur Lampung Mirza dan Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Kristomei Sianturi tengah memantau sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menilai kesigapan Forkopimda dalam manajemen krisis ini sangat krusial mencegah meluasnya dampak di masyarakat. Foto: Arsip Pemprov Lampung/Kirka/Iz

Kirka – Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang melonjak drastis sejak Jumat, 4 September malam berdampak langsung pada kualitas udara di sejumlah wilayah.

Hujan abu vulkanik mulai menyelimuti Bandarlampung, Pesawaran, hingga Pesisir Barat.

Menghadapi situasi berstatus Siaga atau Level III, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) langsung mengeksekusi skema darurat demi mengamankan warga.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memberikan respons positif atas langkah sigap kepala daerah beserta unsur TNI-Polri.

Sinergi lintas sektor mutlak diperlukan ketika alam sedang bergejolak.

“Gerak cepat Gubernur Mirza bersama jajaran Forkopimda merupakan bentuk manajemen krisis yang sangat pas.

“Keputusan memobilisasi personel ke titik rawan berhasil mencegah kepanikan massa,” tegas Mahendra, di Bandarlampung, Senin, 7 September 2026.

Kesiapan aparatur tampak jelas dari pergerakan cepat Kodam XXI/Radin Inten.

Sebanyak 605 prajurit langsung diterjunkan ke berbagai lokasi terdampak.

Pangdam Mayjen TNI Kristomei Sianturi memastikan kesatuan militer turun dengan dukungan operasional penuh, mulai dari kendaraan angkut personel, dapur lapangan, ambulans, hingga pengoperasian pesawat nirawak atau drone.

“Seluruh pasukan sudah tergelar secara utuh di lapangan.

“Para Babinsa juga proaktif memandu warga melakukan mitigasi secara mandiri,” ungkap Kristomei.

Upaya mitigasi aparat sejalan dengan tingginya ancaman partikel debu gunung berapi bagi pernapasan.

Ketua Majelis Kehormatan PDPI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, memaparkan materi vulkanik mengandung fragmen batuan dan kaca mikroskopis yang sangat abrasif.

Jika terhirup, risikonya fatal karena bisa menyebabkan radang tenggorokan, bronkitis, bahkan memperburuk kondisi pasien asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Guna menekan angka penderita penyakit infeksi saluran pernapasan, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Lampung, Johan Lius, menginstruksikan warga agar mengurangi mobilitas di luar rumah dan disiplin memakai masker.

Menutup rapat ventilasi rumah juga menjadi cara ampuh menghalau masuknya partikel berbahaya.

Gerakan pengamanan kesehatan mendapat dukungan solidaritas dari Provinsi Banten melalui pengiriman lima ribu dus masker.

Di sisi lain, pemantauan aktivitas kegempaan terus berjalan secara ketat. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) berkolaborasi dengan BMKG konsisten memperbarui data secara langsung dari pos pengamatan.

Berkaitan dengan derasnya arus informasi, Mahendra Utama berpesan agar masyarakat berpegang teguh pada sumber resmi dari pemerintah.

“Banyak hoaks soal potensi tsunami sengaja disebar oknum. Faktanya, tinggi GAK sekarang hanya berkisar 157 meter, jauh di bawah elevasi tahun 2018 lalu.

“Warga harus bersikap rasional, tetap tenang, dan ikuti arahan otoritas resmi agar terhindar dari kepanikan berlebih,” pungkas Mahendra.