Kirka – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 kembali membuka ingatan publik atas tragedi maha dahsyat 1883.
Letusan masa lampau yang mengubah peta Selat Sunda dan memakan lebih dari 36 ribu korban jiwa terekam jelas dalam naskah kuno Syair Lampung Karam.
Sayangnya, memori kolektif soal mitigasi serta sejarah kebencanaan nyaris pudar di tengah ingar-bingar acara seremonial tahunan.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memandang esensi peringatan sejarah perlahan bergeser.
Pelaksanaan Festival Krakatau pada 25-30 Agustus lalu di Lapangan Saburai, Bandar Lampung, dominan menyuguhkan panggung hiburan, unjuk musik grup band, hingga bazar kuliner.
Unsur edukasi yang semestinya menjadi pondasi acara justru minim ruang.
“Pengetahuan atas mitigasi bencana mencakup tiga bentuk utama bila mengacu pada teori sosiolog Pierre Bourdieu.
“Pengetahuan mutlak terinternalisasi melalui kesadaran, terobjektifikasi lewat artefak seperti Syair Lampung Karam, lalu terinstitusionalisasi lewat kebijakan pemerintah.
*Ketiga elemen wajib hidup berdampingan,” ucap Mahendra, di Bandarlampung, Minggu, 6 September 2026
Naskah Syair Lampung Karam merupakan maha karya autentik Muhammad Saleh, seorang penyintas asal Tanjung Karang yang berhasil menyelamatkan diri ke Singapura saat bencana terjadi.
Tulisan 374 bait memuat kesaksian mata kepala langsung dari kalangan pribumi tentang hantaman tsunami puluhan meter yang menyapu daratan pesisir pesisir selatan Sumatera dan barat Jawa.
Karya sastra cetakan Singapura rentang waktu 1883-1884 berjudul asli Syair Negeri Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu merekam detail kehancuran belasan desa hingga kematian massal penduduk secara amat dramatis.
Direktur Klasika Lampung, Ahmad Mufid, memiliki pandangan sejalan.
Mufid menyebut catatan Muhammad Saleh layaknya sebuah reportase jurnalistik lampau yang sangat langka.
“Karya peninggalan Saleh adalah dokumen pribumi yang mendokumentasikan kengerian letusan Krakatau 1883.
“Di dalamnya berpadu nilai sejarah, catatan ilmiah, serta kaidah jurnalistik,” kata Mufid.
Ia pun menegaskan, “Festival Krakatau jangan hanya berhenti sebagai tontonan semata, ia harus menjadi tuntunan.”
Menyambung pernyataan Mufid, Mahendra Utama menyampaikan desakan langsung kepada pemangku kebijakan.
Dokumen peninggalan Muhammad Saleh bukan sekadar untaian puisi usang, melainkan bukti peradaban yang merekatkan ikatan historis antara Provinsi Lampung dan Banten secara tak terputus.
“Sudah waktunya pemerintah provinsi, khususnya Gubernur Banten dan Gubernur Lampung, segera duduk bersama.
“Naskah sarat edukasi bencana wajib masuk kurikulum muatan lokal sekolah tingkat daerah sekaligus menjadi materi inti pelaksanaan Festival Krakatau ke depan,” kata Mahendra memungkasi.






