Kirka – Hasil panen alpukat dari Provinsi Lampung terus mengalir deras ke Pulau Jawa sebatas dalam bentuk bahan baku mentah.
Alur distribusi pengiriman membikin petani maupun pemerintah daerah selalu kehilangan ceruk pendapatan besar dari fase pengolahan pascapanen.
Melihat besarnya tingkat kebocoran ekonomi daerah, Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menyodorkan jalan keluar.
Ia mendorong langkah integrasi hasil panen langsung ke rantai pasok agroindustri skala besar agar kesejahteraan masyarakat desa ikut terangkat.
Praktik pertanian di Kabupaten Lampung Timur sebetulnya sudah menerapkan metode tumpang sari antara tanaman perkebunan dengan pohon tajuk tinggi.
Pola tanam berhasil mengamankan pemasukan berlapis bagi petani dari satu hamparan lahan yang sama.
“Namun, nilai tambah terbesar justru berada di tahapan pasca panen, yang selama kurang mendapat perhatian,” kata Mahendra Utama, Selasa, 1 September 2026.
Bumi Ruwa Jurai, lanjutnya, punya rekam jejak panjang dalam mengelola bahan baku alam menjadi produk bernilai jual tinggi.
Mahendra mengambil contoh nyata dari keberhasilan dua korporasi raksasa, yakni PT Sari Segar Husada (Sungai Budi Group) dan PT Great Giant Pineapple (GGP).
Sungai Budi Group terbukti sukses memproses kelapa menjadi minyak goreng, sabun, tepung beras, tepung tapioka, hingga gula.
Perusahaan bahkan mulus menembus pasar ekspor dengan catatan transaksi menembus Rp25,30 miliar per bulan.
Skala produksi masif juga ditunjukkan GGP lewat pengelolaan 32.000 hektare kebun nanas berkapasitas 3.500 ton per hari.
Laju ekspor produk olahannya sanggup menyentuh angka 400 juta dolar AS setiap tahun.
Kesuksesan dua entitas bisnis bisa menjadi cetak biru pengelolaan komoditas alpukat.
Mahendra menyebut agroforestri bukan sebatas cara menanam, melainkan sebuah filosofi pembangunan yang memadukan kepentingan pelestarian ekologi dan perputaran ekonomi secara berdampingan.
“Jika dikelola dengan serius, bukan sekadar proyek percontohan, agroforestri memiliki kapasitas strategis untuk membangun ekosistem agroindustri yang berakar pada kearifan lokal, berkelanjutan secara lingkungan, dan tangguh secara ekonomi,” ujarnya.
Peluang penciptaan produk turunan juga sangat menjanjikan.
Daging buah alpukat bisa diproses menjadi puree, selai, es krim, smoothie, sampai makanan siap saji.
Ekstraksi pengolahan menghasilkan minyak bermutu tinggi untuk kebutuhan pangan maupun industri kosmetik.
Bahkan limbah berupa biji maupun kulit buah tetap memiliki nilai jual komersial jika ditangani secara presisi.
Demi mewujudkan ekosistem agroindustri riil, kelompok petani level desa perlu mendapat sokongan penuh agar sanggup mendirikan fasilitas pengolahan skala kecil.
Skema penciptaan lapangan kerja baru bagi warga sekitar tanpa merusak tutupan hutan.
Sinergi rantai pasok antara komoditas rakyat dengan industri mapan bakal mengunci bahan mentah agar tidak keluar wilayah.
Rantai kemandirian pada gilirannya membangun pondasi masa depan daerah yang berdaulat.
“Sudah saatnya kita serius menjadikan agroforestri sebagai pondasi pembangunan Indonesia yang hijau dan berkeadilan,” kata Mahendra memungkasi.






