Kirka – Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mengupas akar pemikiran Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam merancang kebijakan hilirisasi tingkat pedesaan.
Latar belakang pendidikan teknik dan pengalaman panjang mengurus tata niaga pertanian disebut menjadi pondasi utama sang kepala daerah saat merumuskan program strategis.
Mahendra menjelaskan, Gubernur Lampung sukses memadukan nalar teknis sebagai alumnus Teknik Mesin Universitas Trisakti dengan wawasan keilmuan Magister Manajemen Universitas Lampung.
Kapasitas manajerialnya semakin matang kala memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Lampung selama lebih dari satu dekade.
“Pengalaman memimpin organisasi petani dan merintis karier di sejumlah perusahaan swasta membentuk cara pandang pragmatis Mirza.
“Dia amat paham seluk-beluk tata niaga komoditas daerah,” ungkap Mahendra di Bandarlampung, Rabu, 26 Agustus 2026.
Pemahaman mendalam tentang kondisi lapangan melahirkan pendekatan hilirisasi sebagai solusi struktural pengentasan kemiskinan.
Mirza, sapaan akrab Rahmat Mirzani Djausal, kerap menyoroti ironi kesejahteraan petani yang tidak berbanding lurus dengan hasil panen.
“Komoditasnya tumbuh, tapi petaninya tetap miskin. Persoalan mendasar harus segera dibenahi,” tegas Mirza dalam satu kesempatan, yang dikutip kembali oleh Mahendra sebagai bukti komitmen pemerintah provinsi.
Merespons ketimpangan harga jual panen, Pemerintah Provinsi Lampung langsung mengeksekusi program Desaku Maju.
Lewat program andalan daerah, pemerintah membangun 500 unit mesin pengering gabah (dryer) yang disebar ke berbagai desa sentra produksi.
Mahendra menjabarkan, pengadaan fasilitas pengeringan membuktikan kebijakan gubernur berjalan sangat efektif.
Petani tidak lagi terpaksa menjual hasil bumi dalam kondisi basah dengan harga anjlok ke tengkulak.
Kehadiran infrastruktur pascapanen membuat nilai tambah langsung dinikmati masyarakat setempat.
Fakta di lapangan menunjukkan lonjakan harga gabah pasca beroperasinya mesin pengering.
Gubernur Lampung menegaskan bahwa pemrosesan dari tingkat paling bawah otomatis memangkas jalur distribusi panjang.
“Kalau jagung dikeringkan di desa, dibuat pakan di desa, lalu ayam diproses di desa, kita jelas mengurangi biaya logistik sekaligus mendongkrak pendapatan petani secara langsung,” ucap Mirza.
Selain pengadaan alat mekanis, pemerintah provinsi tengah merancang ekosistem pendukung melalui distribusi pupuk organik cair untuk 2.651 desa dengan target penyelesaian pada tahun 2027.
Pendekatan holistik semakin kuat ketika Mirza menggandeng korporasi besar seperti Nestle dan unsur perguruan tinggi guna menerapkan skema kolaborasi hexahelix.
“Kami butuh dukungan sivitas akademika untuk memperkuat pendidikan vokasi desa dan memberikan pendampingan tata kelola BUMDes,” ujar sang gubernur.
Di mata Mahendra Utama, konsep pembangunan ala Rahmat Mirzani Djausal sangat sejalan dengan teori resource based view.
Teori berbasis sumber daya mengedepankan pengolahan potensi lokal demi menciptakan keuntungan ganda bagi penduduk asli.
Kini, desa-desa di Lampung diproyeksikan tumbuh sebagai pusat pengolahan komoditas mandiri, bukan sekadar wilayah pemasok bahan mentah untuk industri berskala besar.
Transisi kepemimpinan dari ranah teknik dan bisnis menuju kebijakan publik membuktikan bagaimana rekam jejak mampu melahirkan program berorientasi kerakyatan.






