Sosok  

Maulid Nabi 1448 H: Merawat Alam dan Harapan Pemimpin Sejahtera

Maulid Nabi 1448 H: Merawat Alam dan Harapan Pemimpin Sejahtera
Mahendra Utama. Melalui puisinya, ia menjadikan momen Maulid Nabi 1448 H sebagai refleksi atas krisis ekologi dan kesejahteraan rakyat. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Puisi Maulid Nabi 1448 H: Merawat Alam dan Harapan Pemimpin Sejahtera, karya Mahendra Utama ini secara indah menggabungkan tema spiritualitas peringatan Maulid Nabi dengan refleksi kritis mengenai krisis lingkungan dan kondisi sosial masyarakat.

Pada awal puisi, penulis mengekspresikan rasa syukur dan kedamaian atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diibaratkan sebagai “pelita penuntun jiwa”.

Namun, suasana bahagia tersebut langsung dikontraskan dengan realitas menyedihkan tentang bumi yang sedang hancur akibat keserakahan manusia.

Mahendra menjadikan momen Maulid sebagai ajang introspeksi diri, memohon ampunan kepada Tuhan atas bencana alam seperti banjir dan kebakaran hutan yang dipicu oleh ambisi duniawi yang fana.

Selain menyoroti isu ekologi, puisi juga memuat doa yang tulus untuk para pemimpin bangsa.

Penulis berharap agar para pemimpin dapat meneladani “cahaya kenabian” sebuah metafora untuk kepemimpinan yang adil, jujur, dan berpihak pada kaum lemah.

Tujuannya adalah untuk mengikis kemiskinan dan membawa kesejahteraan bagi rakyat.

Secara keseluruhan, puisi menyimpulkan bahwa peringatan Maulid Nabi bukanlah sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah panggilan nyata untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam dua hal utama: menjaga kelestarian alam dan peduli terhadap penderitaan sesama manusia.

 

Maulid Nabi 1448 H: Merawat Alam dan Harapan Pemimpin Sejahtera

 

Karya: Mahendra Utama

 

Di tengah riuh gema shalawat yang menggema,

12 Rabiul Awal Lahir Sang Pelita penuntun kegelapan jiwa.

Kami menyambut hadirmu dengan syukur penuh makna,

Membawa ketenangan di hati yang merindu surga.

 

Namun bumi kami kini merintih penuh luka,

Banjir bandang, gempa, hingga hutan terbakar membara.

Ampuni kami ya Allah, atas rakusnya jemari manusia,

Yang merusak alam demi megahnya dunia yang fana.

 

Di hari kelahiran Rasulullah nan suci ini,

Kami bersujud menengadah memohon rahmat Ilahi.

Basahilah duka ini dengan ampunan dan kasih,

Agar bumi kembali damai, teduh, dan bersih.

 

Bimbinglah para pemimpin kami dengan cahaya kenabian,

Agar teguh berdiri membela rakyat yang membutuhkan.

Mengikis kemiskinan, memutus belenggu penderitaan,

Menuntun bangsa menuju tangga kesejahteraan.

 

Jadikanlah momentum Maulid Nabi ini benteng rukun,

Tempat kami belajar menjadi hamba yang santun.

Meneladani akhlak Nabi dalam menjaga alam dan sesama,

Merawat bumi, memetik berkah-Mu sepanjang masa.