Sosok  

Mengapa Gubernur Mirza Sangat Konsen pada Pertanian? Ini Jawaban dan Buktinya

Mengapa Gubernur Mirza Sangat Konsen pada Pertanian? Ini Jawaban dan Buktinya
Mahendra Utama beberkan rekam jejak dan alasan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal fokus pada pertanian. Foto: Arsip Adpim/Kirka/Iz

Kirka – Sektor agraris menjadi titik pusat perhatian Gubernur Rahmat Mirzani Djausal sejak resmi memimpin Provinsi Lampung.

Kedekatan sang kepala daerah dengan kaum tani rupanya memiliki landasan sejarah panjang sekaligus perhitungan ekonomi matang.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membeberkan sederet fakta yang melatarbelakangi fokus kebijakan pemerintah provinsi.

Berdasarkan data statistik, sektor pangan memegang peranan sebagai tulang punggung perekonomian daerah dengan nilai kontribusi menembus Rp150 triliun atau mencakup 28 persen dari total produk domestik regional bruto.

“Luas wilayah kita mencapai 3,3 juta hektare dan lebih dari separuhnya, sekitar 1,8 juta hektare, merupakan lahan garapan.

“Hamparan sawah dan kebun menjadi denyut nadi kehidupan bagi 1,6 juta keluarga,” urai Mahendra, Minggu, 23 Agustus 2026.

Ketergantungan masyarakat pada hasil bumi terbilang sangat masif.

Mahendra mencatat ada 60 persen dari total 2,4 juta kepala keluarga yang menggantungkan asap dapur mereka dari aktivitas bercocok tanam.

Rekam jejak pria yang akrab disapa Iyai Mirza semakin memperkuat arah kepemimpinannya.

Sepuluh tahun lamanya ia berkiprah mengurusi persoalan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) daerah setempat.

Kiprahnya membina jejaring akar rumput bermula sejak era kepemimpinan Prabowo Subianto pada 2007 silam.

Pengalaman panjang berbaur di lapangan membuat sang gubernur paham betul jeritan warga pelosok.

Persoalan klasik seperti kelangkaan pupuk, anjloknya harga panen, sampai minimnya pendapatan rumah tangga menjadi pekerjaan rumah yang terus diselesaikan.

Kepercayaan kaum tani terbukti tetap utuh saat Iyai Mirza kembali terpilih secara aklamasi menakhodai DPD HKTI Lampung periode 2026–2031 pada Juli lalu.

Posisi ganda sebagai gubernur sekaligus ketua himpunan justru mempermudah penyelarasan program kerja.

“Organisasi sekarang menjelma jadi jembatan solid penghubung pengusaha, pemerintah, serta produsen pangan.

“Petani tidak mungkin maju tanpa hilirisasi, kita harus bisa menguasai pasar global,” papar Mahendra menggarisbawahi pesan sang gubernur.

Rencana besar pemerintah provinsi langsung dieksekusi lewat pembagian Pupuk Organik Cair (POC) menyasar 2.000 desa.

Inovasi penyubur tanah sukses mengerek kuantitas hasil panen pada kisaran 15 hingga 30 persen.

Bantuan fisik lainnya mencakup pengadaan 500 unit mesin pengering, fasilitas silo, ditambah 2.500 kuota beasiswa bagi anak-anak desa.

Efek berantai perbaikan tata kelola mulai memperlihatkan wujud nyata.

Harga komoditas merangkak naik seiring bertumbuhnya perputaran uang di perkampungan.

Peningkatan daya beli ikut mendongkrak transaksi penjualan kendaraan maupun pergerakan jasa logistik antar kabupaten.

Fenomena perubahan sosial ekonomi sejalan dengan Teori Kepemimpinan Visioner rumusan James MacGregor Burns.

Mahendra melihat sosok pemimpin transformasional memang harus mampu menginspirasi serta menciptakan dampak nyata di tengah masyarakat.

“Pemimpin yang utuh itu mau turun langsung ke sawah, berdialog, mendengar suara akar rumput.

“Prinsip utamanya sangat jelas, kalau petani sejahtera, desa bergerak, ekonomi daerah otomatis tumbuh melesat,” pungkas Mahendra.