Kirka – Laporan riset Oxford Economics melalui publikasi Global Cities Index 2026 membuka mata publik mengenai pergeseran kutub ekonomi Nusantara.
Selama puluhan tahun, Pulau Jawa menjadi sentra pertumbuhan tunggal.
Namun, peta kekuatan perlahan bergeser seiring masuknya tiga daerah dari Pulau Sumatera ke dalam jajaran 10 besar nasional.
Jakarta memang masih bertengger di urutan 140 dunia. Di level nasional, Surabaya mengekor pada posisi 308.
Menariknya, Medan berhasil menduduki peringkat 371 dunia, disusul Padang pada angka 377, dan Bandar Lampung menempati urutan 395.
Tiga wakil Sumatera bersaing sangat ketat dengan nama-nama besar layaknya Denpasar (382), Makassar (389), Yogyakarta (396), serta Bandung (409).
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memaparkan bahwa keberhasilan tiga kawasan menembus papan atas indeks dunia bukanlah sebuah kebetulan matematis.
“Medan, Padang, maupun Bandar Lampung mempunyai fungsi logistik dan konektivitas sangat khas.
“Ketiganya secara bertahap mulai terhubung dengan jaringan perdagangan lintas perbatasan.
“Meski belum setara Jakarta, ketiganya sudah memperlihatkan gejala kuat sebagai emerging global cities,” ungkap Mahendra, Kamis, 1 Oktober 2026.
Melacak Jejak Teori Kota Global
Gagasan mengenai konstelasi kota dunia telah lama diutarakan oleh sosiolog John Friedmann dan Saskia Sassen.
Friedmann mengutarakan, sebuah kota naik kelas bukan sekadar karena ledakan jumlah penduduk.
Tolok ukurnya bersandar pada kemampuan mengendalikan arus modal, informasi, dan pergerakan tenaga kerja.
Sassen pun melengkapi hipotesis itu. Kawasan global lahir dari konsentrasi layanan finansial dan inovasi transnasional.
Berdasarkan kerangka teori di atas, posisi Medan, Padang, dan Bandar Lampung sedang berada dalam fase penting transformasi.
Kekuatan Tiga Pilar Sumatera
Setiap daerah membawa amunisi berbeda. Medan merupakan metropolitan terbesar ketiga Nusantara.
Keberadaan Pelabuhan Belawan mengukuhkan perannya sebagai pintu gerbang barat.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp293 triliun. Capaian daya saing digital tertinggi di luar Jawa membuktikan status Medan sebagai mesin ekonomi utama.
Bergerak ke pesisir barat, Padang menonjol lewat skor Indeks Daya Saing Daerah pada angka 4,25.
Daerah pesisir Samudera Hindia memegang peran vital pada sektor perdagangan, jasa, hingga pusat pendidikan tinggi.
Jalur laut Samudera Hindia menyimpan potensi besar yang menunggu garapan maksimal.
Sementara untuk Bandar Lampung, sebagian publik acap salah kaprah dan hanya menganggapnya sebagai wilayah persinggahan. Padahal, letak geografisnya amat strategis.
“Bandar Lampung merupakan simpul urat nadi antara Jawa dan Sumatera. Rantai pasok nasional sangat bergantung pada kelancaran logistik di wilayah penghubung.
“Riset akademis bahkan berani menyimpulkan adanya peluang besar transformasi menuju kota global pada masa mendatang,” jelas Mahendra lebih lanjut.
Anomali Metodologi Pengukuran
Meski mencatatkan prestasi membanggakan, pemeringkatan Global Cities Index 2026 juga menyisakan tanda tanya besar.
Ada celah metodologi saat beberapa kekuatan ekonomi raksasa Sumatera justru luput dari radar.
Palembang tampil dominan dengan PDRB Rp194,57 triliun, angka yang jauh melampaui capaian Bandar Lampung maupun Padang.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan skor 4,23 untuk ibu kota Sumatera Selatan, sebuah catatan impresif yang mengungguli banyak daerah Jawa pada sektor stabilitas makroekonomi.
Fakta serupa mendera Batam. Berbekal status Kawasan Ekonomi Khusus, perputaran uang menjadikan Batam sebagai daerah terkaya kedelapan nasional.
Belum lama, UNCTAD memasukkan Pelabuhan Batam ke dalam 10 besar dunia terkait pertumbuhan konektivitas pelayaran pelabuhan.
Pekanbaru turut menunjukkan taring berkat kekuatan sumber daya alam penyokong PDRB Rp159,96 triliun.
“Ada dimensi pengukuran yang luput dari pandangan Oxford Economics.
“Metodologi pemeringkatan tampaknya belum sepenuhnya mengakomodasi kedalaman industrialisasi dan perluasan konektivitas maritim, sehingga nama sebesar Batam atau Palembang bisa terlewatkan dari daftar sepuluh besar,” urai Mahendra.
Tantangan Tata Kelola dan Lingkungan
Lebih jauh, perputaran ekonomi yang masif rupanya tidak langsung menjawab seluruh persoalan.
Laporan Global Cities Index secara tersirat memberikan peringatan tajam. Menjadi kota global butuh kelengkapan indikator di luar tumpukan uang.
Jakarta boleh saja tangguh pada sektor pergerakan ekonomi dan kapasitas sumber daya manusia.
Namun, ibu kota negara tampak kedodoran saat berhadapan dengan isu birokrasi tata kelola (governance), kelestarian lingkungan (environment), serta jaminan kualitas hidup warganya (quality of life).
Pekerjaan rumah yang sama kini berada di depan mata para kepala daerah se-Sumatera.
Aglomerasi kawasan metropolitan seperti Medan, Palembang, dan Batam membutuhkan sentuhan perencanaan tata ruang jangka panjang.
“Tanpa pembenahan infrastruktur sosial, institusi pemerintahan yang bersih, dan tata kelola lingkungan yang asri, keunggulan daya saing sekadar menjadi euforia sesaat.
“Pengelolaan kawasan urban mutlak menjadi prioritas supaya ujung barat Nusantara benar-benar siap melahirkan lebih banyak kekuatan global,” pungkas Mahendra Utama.






