CBG Limbah Sawit Perkuat Ketahanan Energi Nasional

CBG Limbah Sawit Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Ilustrasi aktivitas pekerja perkebunan kelapa sawit yang terintegrasi dengan fasilitas Compressed Biogas (CBG). Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, meyakini pengolahan limbah cair sawit menjadi energi alternatif siap memperkuat kemandirian pasokan nasional dan menekan angka impor. Foto: Arsip Wiki/Kirka/Iz

Kirka – Pengembangan fasilitas Compressed Biogas (CBG) berbahan baku limbah kelapa sawit bukan sekadar program pelestarian lingkungan biasa.

Pemanfaatan sisa pengolahan sawit merupakan bagian dari strategi besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tingginya tren kebutuhan pasokan sekaligus menekan angka impor bahan bakar fosil.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan urgensi pemanfaatan energi alternatif pengganti gas bumi bagi kemandirian industri dalam negeri.

Menurutnya, potensi besar dari sisa cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sangat melimpah dan siap dikonversi menjadi cadangan energi produktif.

“Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit dengan potensi limbah cair mencapai 130 juta meter kubik setiap tahun.

“Emisi buangannya menyentuh angka 20 juta ton CO2e per tahun, dan hampir 90 persen dari total polutan bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru,” papar Mahendra, Minggu, 13 September 2026.

Langkah nyata menggarap potensi pasokan bioenergi mulai berjalan lewat pembangunan delapan klaster fasilitas biometana di sekitar wilayah operasional perkebunan.

Klaster penyulingan gas alam organik bakal menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan energi terbarukan bagi sektor industri Tanah Air.

Menyikapi ketersediaan pasokan energi bersih, PT Pertagas Niaga (PTGN) siap bertindak sebagai penyerap hasil produksi CBG selama 15 tahun ke depan lewat perjanjian jual beli jangka panjang bersama reNIKOLA Primer Energi.

Sejalan dengan paparan Mahendra, PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) turut memproyeksikan pengolahan CBG berbasis POME sebagai salah satu jalan keluar paling efektif untuk menurunkan angka emisi metana.

Upaya konversi limbah sawit otomatis mengurangi tingkat ketergantungan negara terhadap suplai gas alam cair (LNG) dari luar negeri.

Guna memuluskan proses distribusi energi bersih ke pelanggan, PTGN merencanakan pembangunan stasiun injeksi biometana di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei.

Fasilitas terintegrasi bertugas menghubungkan pasokan CBG dari sentra pengolahan kelapa sawit, lalu menginjeksikannya langsung ke dalam jaringan pipa gas eksisting.

Direktur Utama PTGN, Toto Yulianto, menjelaskan optimalisasi infrastruktur akan memperluas akses konsumen industri terhadap pemakaian energi rendah karbon.

“Melalui kolaborasi terpadu, kami menciptakan jalur bagi biometana untuk diintegrasikan ke dalam jaringan gas yang sudah ada,” kata Toto.

Dukungan senada datang dari sektor hulu perkebunan pelat merah.

Direktur Strategy and Sustainability PTPN IV PalmCo, Ugun Untaryo, memastikan pengoperasian delapan fasilitas CBG merupakan bagian utuh dari peta jalan dekarbonisasi perusahaan.

Gerakan masif optimalisasi sisa operasional pabrik kelapa sawit sangat selaras dengan target nasional Nol Emisi Karbon.

Pemanfaatan bahan sisa pengolahan kelapa sawit menyumbang peran besar dalam menyokong bauran energi baru terbarukan sebesar 44 hingga 48 persen pada tahun 2030, serta mempercepat pencapaian Net Zero Emissions di 2060.

Menutup penjelasannya, Mahendra Utama menegaskan keberhasilan mengolah residu cair sama dengan membangun fondasi ketahanan energi masa depan yang jauh lebih tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.