Sosok  

Mengenang Dedikasi Abdul Hakim Ritonga dalam Penegakan Hukum

Mengenang Dedikasi Abdul Hakim Ritonga dalam Penegakan Hukum
Selamat jalan, Bapak Abdul Hakim Ritonga. Dedikasi dan keteguhanmu dalam menegakkan hukum di negeri ini akan selalu dikenang. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Judul di atas adalah puisi karya Mahendra Utama yang merupakan sebuah elegi atau sajak penghormatan dan duka cita yang mendalam atas berpulangnya Abdul Hakim Ritonga.

Secara garis besar, bait-bait awal puisi menyoroti rekam jejak, dedikasi, dan integritas almarhum selama mengabdi sebagai tokoh penegak hukum di Indonesia, khususnya di lingkungan Kejaksaan Agung.

Mahendra mendeskripsikan sosok almarhum sebagai figur yang teguh memegang teguh keadilan, menjadikan kebenaran sebagai panduan utama, serta selalu meletakkan kepentingan negara di atas segalanya.

Dedikasi tersebut digambarkan tidak akan lekang oleh waktu, karena setiap keputusan dan pandangannya di bidang hukum dilandasi oleh amanah yang kuat.

Lebih dari sekadar ungkapan belasungkawa, puisi juga memuat pesan moral tentang pentingnya regenerasi dan pewarisan nilai-nilai kebaikan.

Pada bait keempat, penulis secara khusus menitipkan harapan kepada sang anak sekaligus generasi penerus (Ronaldo) untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan dan menjaga nama baik yang telah dirintis oleh sang ayah.

Pesan ini menegaskan bahwa keadilan harus terus diperjuangkan agar tetap “bernyawa.”

Puisi kemudian ditutup dengan doa yang tulus memohon tempat terbaik di sisi Allah SWT untuk almarhum, serta harapan agar keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kesabaran dan keteguhan iman.

 

Mengenang Dedikasi Abdul Hakim Ritonga dalam Penegakan Hukum

 

Karya: Mahendra Utama | Eksponen 98

 

Deru waktu hening sejenak,

Sosok teguh kini berpulang,

Di panggung hukum kau berdiri,

Dengan kebenaran sebagai sandaran.

 

Sepanjang jalan kau tempuh,

Kejaksaan agung kau jaga,

Tanganmu menggenggam keadilan,

Untuk negeri yang kau cinta.

 

Wahai insan penegak hukum,

Jasamu takkan sirna waktu,

Di setiap pasal yang kau bicarakan,

Terukir amanah dan keteguhan jiwa.

 

Ronaldo, generasi penerus,

Pikullah warisan sang ayah bangsa,

Tegakkan reputasi yang telah terjaga,

Agar keadilan tetap bernyawa.

 

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,

Semoga amal ibadah diterima-Nya,

Lapanglah kubur dan tenang di sisi-Nya,

Bagi keluarga, sabar dan kekuatan iman.

 

 

Puisi ini saya dedikasi sebagai bentuk duka cita atas kepulangan sosok Abdul Hakim Ritonga. Semoga Allah SWT berikan surgaNya pada beliau. Aamiin YRA.