Sosok  

Saat Abu Vulkanik Krakatau Menyapa Teras Rumah

Saat Abu Vulkanik Krakatau Menyapa Teras Rumah
Lewat bait puisinya, Mahendra Utama mengingatkan kita bahwa hidup berdampingan dengan Sang Anak Krakatau butuh lebih dari sekadar pasrah, kita butuh mitigasi, kepedulian, dan kewaspadaan yang cerdas. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Puisi “Saat Abu Vulkanik Krakatau Menyapa Teras Rumah” karya Mahendra Utama menyoroti hubungan yang erat dan harmonis antara manusia, budaya, dan alam, khususnya dengan Gunung Anak Krakatau.

Pada bait-bait awal, puisi ini membingkai fenomena alam jatuhnya abu vulkanik bukan sebagai sebuah teror atau bencana, melainkan sebagai sebuah “sapaan” hangat dari alam.

Gunung Anak Krakatau diumpamakan atau dipersonifikasikan sebagai makhluk bernyawa sekaligus “saudara tua” yang sedang mengirimkan pesan rindu kepada daerah-daerah di sekitarnya, mulai dari pesisir Lampung, Banten, hingga ke Jakarta dan Jawa Barat.

Mahendra memasukkan unsur budaya lokal (seperti saibatin di Lampung) untuk menunjukkan bahwa masyarakat setempat telah menerima siklus alam ini dengan hati yang lapang.

Mereka memandang letusan gunung bukan sebagai musuh yang harus ditakuti, melainkan sebagai bagian dari dinamika “rumah bersama” yang sudah menjadi takdir kehidupan pesisir.

Di balik pandangan yang romantis dan kultural tersebut, puisi ditutup dengan pesan pragmatis yang sangat kuat pada bait terakhir.

Mahendra menekankan bahwa sikap ikhlas dan pasrah saja tidaklah cukup untuk hidup berdampingan dengan gunung berapi yang aktif.

Manusia dituntut untuk merespons aktivitas alam menggunakan ilmu pengetahuan, nalar, dan teknologi. Ajakan untuk “mengukur denyut” dan “membaca getar” adalah kiasan nyata untuk melakukan mitigasi bencana yang terencana.

Dengan kata lain, harmoni yang sejati antara manusia dan Anak Krakatau hanya bisa terwujud jika rasa hormat terhadap alam diimbangi dengan kewaspadaan dan kecerdasan dalam menjaga keselamatan bersama.

 

Saat Abu Vulkanik Krakatau Menyapa Teras Rumah

 

Karya Mahendra Utama – Pemerhati Pembangunan

 

Debu kelabu tiba di pagi Minggu pertama,

Membalut daun pisang di halaman Lampung,

Berkibar lembut ke jendela Banten,

Singgah di teras Jakarta hingga Jawa Barat, tanda kehadiran.

 

Itu bukan kabar duka, melainkan sapaan,

Anak Krakatau berbisik: “Aku masih bernyawa.”

Dari kawah yang mendidih, ia kirim pesan rindu,

Agar kita tahu, gunung dan manusia adalah satu takdir.

 

Pesisir Lampung dengan saibatinnya,

Banten dengan budayanya yang kental,

Menerima abu sebagai bagian dari rumah bersama,

Seperti ombak dan angin, kita ikhlas menjalani pergulatan.

 

Krakatau bukan musuh, ia saudara tua,

Anaknya tumbuh di tengah Selat Sunda,

Menyatukan darah pesisir dalam cakrawala,

Lampung–Banten–GAK: keluarga yang saling menjaga.

 

Maka pandanglah aktivitasnya dengan ilmu,

Ukur denyut, baca getar, catat setiap geliat,

Agar mitigasi lahir dari nalar dan teknologi,

Bukan sekadar pasrah, tapi waspada yang terencana,

Karena hidup berdampingan butuh cerdas dan peduli.