Mengapa Ujaran “Stay Safe” Lampung, Banten, Jakarta dan Jawa Barat Menggema?

Mengapa Ujaran "Stay Safe" Lampung, Banten, Jakarta dan Jawa Barat Menggema?
Anak Krakatau erupsi, linimasa gempar. Apakah 'Stay Safe' ini solidaritas sejati atau sekadar ritual digital? Begini pandangan Mahendra Utama. Foto: Arsip Wiki/Kirka/Iz

Kirka – Hujan abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau menyelimuti langit wilayah Lampung, Banten, Jakarta, hingga Jawa Barat.

Bersamaan dengan kejadian itu, jagat media sosial justru dipenuhi oleh gemanya frasa berbahasa Inggris “stay safe” dari warganet.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebutkan tren penggunaan dua kata mengundang tanda tanya.

Publik dihadapkan pada pilihan makna, apakah ungkapan pamungkas warganet murni bentuk solidaritas atau hanya sekadar ritual digital pelipur lara.

Mahendra menjelaskan, kata-kata penenang ini awalnya populer saat masa pandemi Covid-19 lalu meramaikan linimasa kembali ketika gelombang demonstrasi pecah pada Agustus 2025.

Sekarang, kalimat yang sama menjelma menjadi semacam mantra penenang di tengah kepanikan warga.

“Ungkapan kepedulian sering mandek di layar ponsel tanpa ada tindakan nyata di lapangan.

“Praktik solidaritas instan yang terasa nyaman karena tidak memiliki risiko apa pun,” ungkap Mahendra, Senin, 7 September 2026.

Dia kemudian mengajak publik membandingkan situasi sekarang dengan peristiwa letusan dahsyat Krakatau tahun 1883 silam yang menelan lebih dari 36.000 korban jiwa sekaligus menghancurkan 295 desa.

Kala itu, masyarakat sama sekali tidak mengenal istilah pemanis kata.

Sejarah mencatat peristiwa masa lampau tersebut lewat syair Lampung Karam, sebuah rekam jejak orang-orang yang bertahan hidup pascabencana sekaligus membangkitkan perlawanan terhadap kolonialisme.

Bencana waktu lampau sanggup mengubah tatanan sosial serta peta politik secara menyeluruh.

Lewat pendekatan sosiologi, Mahendra meminjam teori Emile Durkheim tentang pembagian solidaritas sosial, yakni mekanik dan organik.

Solidaritas mekanik lahir berkat kesamaan maupun ikatan batin yang kuat.

Sementara model organik tumbuh lewat proses saling ketergantungan layaknya masyarakat modern.

Menurut penuturan Mahendra, tren yang sedang ramai sekarang masuk kategori solidaritas organik berskala dangkal.

Publik seolah merasa terhubung satu sama lain, padahal aslinya tidak benar-benar saling membutuhkan bantuan secara fisik.

“Tidak ada gerakan gotong royong membersihkan abu, atau aksi nyata mengirim masker.

“Yang ada sekadar ribuan unggahan untuk menghangatkan hati dan menenangkan nurani sendiri,” tegasnya.

Mahendra pun menegaskan gemanya ujaran penyemangat terjadi bukan karena kuatnya jiwa senasib sepenanggungan antar warga.

Sebaliknya, kebiasaan baru masyarakat digital justru membuktikan betapa rentannya ikatan sosial yang ada.

Ungkapan rasa simpati di dunia maya telah menjadi cara paling elegan untuk menghindar dari tanggung jawab kolektif.

“Bila kita memang merasa senasib, kalimat-kalimat manis tidak lagi diperlukan, kita cukup bertindak nyata,” tutup Mahendra.