Sosok  

Kereta, Silaturahmi, dan Ikatan yang Tak Terputus oleh Waktu

Kereta, Silaturahmi, dan Ikatan yang Tak Terputus oleh Waktu
Kunjungan silaturahmi merupakan bagian dari rangkaian perjalanan darat menggunakan kereta api rute Surabaya-Jember demi merawat persahabatan serta ikatan sosial lintas instansi. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Menjaga hubungan pertemanan dan kekeluargaan membutuhkan langkah nyata melalui kehadiran langsung.

Mantan Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh, Mahendra Utama, membuktikan hal itu lewat perjalanan darat dari Mulyorejo, Surabaya, menuju Kaliwates, Jember, Jumat, 2 Oktober 2026.

Ia memilih angkutan kereta api sebagai andalan mobilitas lintas kota.

Keberangkatan menggunakan KA Pandalungan pada pagi hari menjadi pilihan utamanya.

Keputusan menggunakan jalur besi bebas hambatan didasari perhitungan rasional, mulai dari biaya terjangkau hingga waktu tempuh singkat sekitar tiga setengah jam.

“Kereta memungkinkan tiba dalam kondisi bugar. Kehadiran bukan sekadar fisik, melainkan hadir secara utuh,” ujar Mahendra Utama.

Ia menjelaskan bahwa kekuatan sebuah ikatan sosial sangat ditentukan oleh waktu interaksi, intensitas emosional, keintiman, serta layanan timbal balik.

Pemahaman konseptual dari sosiolog Granovetter menjadi pendorong kuat bagi Mahendra untuk selalu merawat jaringan pertemanannya.

Rute kunjungannya ke Jember berakar pada masa penugasan saat mengemban amanah di anak perusahaan PTPN I.

Pertemuan bersama dua sahabat lama dari lingkaran pekerjaan terdahulu merupakan wujud nyata bonding social capital.

Hubungan kuat dalam kelompok terbangun murni tanpa terhalang sekat jabatan masa lalu guna memberi dukungan emosional secara langsung.

Rangkaian silaturahmi berlanjut ke Mapolres Jember.

Mahendra menemui AKBP Alaidin, perwira polisi yang telah ia kenal dekat sejak sang rekan masih berpangkat Inspektur Satu.

Pertemuan lintas instansi menggambarkan bridging social capital atau jembatan sosial antar kelompok berbeda yang sama pentingnya.

Di sela-sela kepadatan aktivitas, ia juga menengok sang putri yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Airlangga.

“Silaturahmi bukan sekadar tradisi. Bertegur sapa adalah investasi sosial guna menjaga jaringan kepercayaan dan resiprositas tetap hidup,” kata Mahendra.

Bagi Mahendra, menyisihkan waktu menemui kawan lama dan keluarga merupakan tindakan mengembalikan manusia pada hakikat utamanya sebagai makhluk sosial.

Perjalanan pulang menggunakan kereta Blambangan Ekspres 145A pada pukul 18.09 WIB menutup rangkaian agendanya.

Momen perjalanan senja menegaskan filosofi hidupnya bahwa hubungan layaknya operasional kereta api, butuh dirawat secara rutin agar roda persahabatan berjalan lancar tanpa henti.