Kirka – Puisi Blackout Batam 2026 karya Mahendra Utama menceritakan tentang krisis pemadaman listrik skala besar yang melumpuhkan Kota Batam secara tiba-tiba pada suatu pagi.
Pemadaman ini tidak hanya sekadar mematikan cahaya dari kawasan Batam Kota hingga Nongsa, tetapi juga memicu efek domino yang menghentikan denyut nadi aktivitas warga dan roda ekonomi.
Dengan hilangnya ratusan megawatt daya listrik, ratusan ribu pelanggan terdampak secara langsung.
Pabrik-pabrik terpaksa berhenti beroperasi yang membuat jadwal para investor berantakan, fasilitas pengolahan air bersih (IPAM) mati, hingga kacaunya lalu lintas kota.
Kepanikan pun terjadi ketika warga harus berburu genset atau menyewa kamar hotel hanya demi mendapatkan akses listrik dan air.
Di balik deskripsi kekacauan tersebut, puisi ini menyisipkan kritik tajam terhadap ketimpangan antara ambisi kemajuan kota dan kesiapan infrastruktur dasarnya.
Mahendra menyoroti bahwa akar masalah dari krisis ini adalah infrastruktur yang mulai rapuh dan menua, ketergantungan pada pasokan gas dari Jambi, serta beban daya yang kelewat batas akibat pesatnya pembangunan fasilitas modern seperti pusat data (data center).
Melalui bait penutupnya, puisi memberikan pesan peringatan, Batam tidak boleh hanya berfokus mengejar investasi tanpa membenahi ketahanan utilitas dasar.
Pemerintah dan pengelola kota didesak untuk memprioritaskan infrastruktur listrik dan air (utility first) serta menerapkan teknologi smart grid, agar pondasi kemajuan kota benar-benar kokoh dan krisis serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Blackout Batam 2026: Listrik Padam, Industri Lumpuh, Warga Bertahan
Karya Mahendra Utama | Pemerhati Pembangunan
Pukul enam tiga puluh, langit masih basah,
Batam tersentak dalam gelap yang gagap.
Trafo terdiam, kabel menahan luka,
Dari Batam Kota sampai Nongsa, cahaya pun sirna.
Empat ratus sebelas ribu pelanggan terhenyak,
Lima ratus tujuh puluh delapan megawatt lenyap.
Roda pabrik berhenti, pekerja pulang tanpa suara,
Investor menatap jadwal yang tiba-tiba patah.
IPAM kehilangan denyut, air tak mengalir,
Lampu lalu lintas mati, simpang jadi gelisah.
Warga menyerbu hotel demi satu colokan,
Genset bergemuruh, namun tak cukup menahan.
Di balik gelap, akar tua menua:
Gas dari Jambi, beban yang terus membara.
Data center menagih daya, pipa rapuh bernyanyi,
Infrastruktur tertinggal dari ambisi yang berlari.
Batam, jangan hanya jadi magnet investasi,
Jika listrik dan air mudah menjadi mimpi.
Utility first, Rempang menyala, smart grid menjaga,
Agar esok tak lagi gelap menelan kota.






