Sosok  

Mengenal ‘Abuleke’: Istilah Khas Maluku-Papua yang Sering Dipakai Bahlil

Mengenal 'Abuleke': Istilah Khas Maluku-Papua yang Sering Dipakai Bahlil
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: Arsip istimewa

Kirka – Seringnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melontarkan istilah ‘abuleke’ mengundang ulasan khusus dari Eksponen 98, Mahendra Utama.

Diksi khas Maluku dan Papua itu dinilai bukan sekadar pemanis orasi, melainkan cara lugas sang menteri menyentil siapapun yang bekerja ceroboh dan tanpa akal sehat.

Mahendra memandang kebiasaan Bahlil menyisipkan bahasa daerah merupakan imbas dari rekam jejak masa kecilnya di wilayah timur Indonesia.

Pemilihan kosakata lokal secara konsisten justru sukses mencairkan sekat birokrasi pemerintahan yang biasanya kaku.

“Sapaan abuleke sangat akrab terdengar pada obrolan harian masyarakat sana.

“Begitu dilontarkan seorang pejabat negara, pesannya langsung terasa merakyat dan gampang ditangkap berbagai kalangan,” kata Mahendra, Selasa, 21 Juli 2026.

Mengenai makna utamanya, Mahendra menjelaskan kata abuleke secara spesifik ditujukan kepada individu yang gemar mengambil keputusan serampangan atau bertindak asal-asalan.

Ungkapan kiasan sosial dipakai guna mengingatkan kolega agar menahan diri dari langkah gegabah.

Kosakata sapaan murni lahir dari kultur pergaulan akar rumput, sama sekali bukan berasal dari literatur akademis maupun jargon medis.

Ketegasan Bahlil menolak budaya kerja asal-asalan tampak jelas saat memaparkan arah kebijakan kementerian.

Sang menteri secara terbuka memperingatkan seluruh bawahannya lewat pernyataan tajam.

“Kita mengurus hal penting untuk rakyat, jadi jangan abuleke. Harus pakai akal sehat dan perhitungan matang”

Melalui teguran segar bermodel kearifan lokal, substansi instruksi pimpinan langsung menancap tepat sasaran.

Mahendra meyakini ada nilai moral kuat di balik gaya ceplos-ceplos Bahlil.

“Pesan intinya adalah kewajiban menghindari sikap tanpa perhitungan kala mengelola urusan negara maupun saat menjalani rutinitas harian.

“Gaya penyampaian merakyat terbukti ampuh mendistribusikan arahan berat tanpa harus menyusun struktur tata bahasa baku yang membosankan,” kata Mahendra Utama.