Gerakan Tanam Cabai dan Masa Depan Pertanian Lampung

Gerakan Tanam Cabai dan Masa Depan Pertanian Lampung
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai Gerakan Tanam Cabai Lampung buktikan status pilar pangan nasional dengan swasembada hingga ekspor. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Upaya keras Pemerintah Provinsi Lampung menjinakkan inflasi lewat Gerakan Tanam Cabai akhirnya membuahkan hasil di luar dugaan.

Tak sekadar mengamankan pasokan dapur warga lokal, melimpahnya surplus panen komoditas pedas rupanya sukses mengantarkan Bumi Ruwa Jurai menembus pasar ekspor.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai pencapaian membanggakan tak lepas dari kejelian pemerintah daerah memetakan lima kabupaten sebagai sentra produksi utama.

Ditambah lagi, keberanian petani di lapangan melakukan diversifikasi varietas patut diacungi jempol.

“Lampung telah membuktikan diri sebagai pilar penting dalam ketahanan cabai nasional.

“Dengan lima kabupaten andalan dan diversifikasi varietas yang cerdas, provinsi kita tidak hanya swasembada tetapi juga berhasil menjangkau pasar ekspor,” tegas Mahendra, Kamis, 30 Juli 2026.

Campur tangan pemerintah mengendalikan gejolak harga bahan pokok sejatinya mulai berjalan masif sejak November 2024.

Desa Margototo di Kecamatan Metro Kibang menjadi titik awal mula penanaman massal.

Waktu itu, sasaran utamanya membanjiri pasokan untuk kawasan Lampung Timur dan Mesuji yang kerap dihantui rekor inflasi tinggi.

Memasuki awal 2025, pergerakan meluas hingga menyasar pekarangan rumah warga.

Staf Ahli Gubernur, Bani Ispriyanto, menerangkan pelibatan skala rumah tangga amat ampuh memutus ketergantungan masyarakat pada pedagang eceran ketika rantai distribusi tersendat.

Kini, hamparan lahan produktif terus menjamur. Pringsewu mencatat garapan seluas 50 hektare, disusul Pesawaran 80 hektare.

Ekspansi juga merambah Lampung Selatan seluas 10 hingga 12 hektare, Lampung Barat 10 hektare, dan puncaknya berada di bentang lahan Lampung Tengah yang menyentuh luasan 140 hektare.

Geliat serupa menular sampai ke jantung kota.

Pemerintah Kota Bandarlampung merespons dengan mengucurkan bantuan bibit unggul beserta sarana pertanian bagi kelompok masyarakat di lima kecamatan, mulai dari Rajabasa, Kemiling, Tanjung Senang, Sukarame, sampai Sukabumi.

Menariknya, pendampingan teknis bagi para peladang berbanding lurus dengan grafik panen.

Volume produksi yang awalnya mandek pada angka 6 sampai 7 ton per hektare, perlahan merangkak naik menyentuh estimasi 8,7 ton.

Lompatan hasil makin terlihat jelas saat akademisi Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mempraktikkan metode smart precision farming di Pringsewu.

Terobosan mutakhir berbasis teknologi presisi sukses membuat petani mampu memanen hingga 14 kali dalam satu siklus tanam.

Kendati gudang penyimpanan melimpah ruah, tata kelola alur barang di lapangan nyatanya belum sepenuhnya ideal.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengingatkan jajarannya lekas merapikan sistem distribusi.

Tujuannya cuma satu, menjaga keseimbangan harga agar konsumen tidak tercekik, namun keringat petani tetap terbayar dengan margin keuntungan layak.

Bagi Mirza, instansi pemangku kebijakan semestinya sudah memegang kalkulasi akurat soal pergerakan barang setiap harinya.

“Konsumsi cabai per kapita, jumlah pasar, dan kebutuhan harian bisa dihitung. Dinas Perdagangan bisa mengatur agar pasokan stabil.

“Cabai komoditas pengendali inflasi, tapi petani harus tetap untung,” pungkas Gubernur.