ARGENTINA vs Inggris akhirnya bersua. Sebuah penantian panjang selama dua dekade diselimuti dendam dalam balutan panggung Piala Dunia 2026.
Semifinal 2026 bukan sekadar perebutan tiket menuju final, tetapi benturan dua kekuatan yang selalu menjual sejarah, emosi, dan kontroversi.
Lionel Messi mengaku laga melawan Inggris menjadi pengalaman yang belum pernah ia rasakan sepanjang kariernya di Piala Dunia.
Pernyataan itu terasa wajar. Sebab, tak semua generasi Argentina mendapat kesempatan menulis babak baru dalam rivalitas sebesar ini.
Bagi publik Argentina, bayangan Diego Maradona masih berdiri tegak di Stadion Azteca 1986.
Gol “Tangan Tuhan” dan aksi solo legendaris terus hidup sebagai simbol kebanggaan nasional. Inggris mungkin telah berganti generasi, tetapi luka lama selalu menemukan cara untuk muncul kembali.
Rivalitas Tak Pernah Kehabisan Cerita
Piala Dunia 2002 menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu berpihak kepada Albiceleste.
Saat Inggris menang lewat penalti David Beckham, Messi bahkan belum menjadi bagian tim nasional senior. Kini, keadaan berubah total.
Messi datang sebagai kapten, juara dunia, sekaligus mesin gol paling tajam di Piala Dunia 2026.
Beban ekspektasi tentu melekat di pundaknya, tetapi pemain seperti Messi justru terbiasa hidup di bawah tekanan.
Di sisi lain, Messi tetap memberi penghormatan kepada Inggris. Ia menyebut The Three Lions sebagai salah satu kekuatan terbesar sepak bola modern.
Respek memang penting, tetapi rasa hormat tidak pernah berarti menyerahkan kemenangan.
Scaloni Memilih Aman
Pelatih Lionel Scaloni menolak menjadikan pertandingan ini sebagai kelanjutan rivalitas politik.
Baginya, semifinal hanya ditentukan oleh kualitas permainan, bukan oleh sejarah konflik antarnegara.
Pendekatan itu menunjukkan kedewasaan Argentina.
Ketika sebagian orang masih sibuk menghidupkan narasi masa lalu, Scaloni justru mengarahkan fokus tim kepada taktik dan mental juara.
Argentina tiba di semifinal setelah melewati laga-laga penuh tekanan. Inggris pun datang dengan perjalanan yang sama meyakinkannya.
Tak ada tim yang mencapai empat besar karena keberuntungan semata.
Menjawab Semua Keraguan
Konflik Malvinas memang masih menjadi bayangan dalam hubungan kedua negara.
Namun, lapangan hijau bukan ruang untuk mengulang perang yang telah lama berakhir.
Penyerang Jose Manuel Lopez memastikan seluruh pemain Argentina akan tampil profesional.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa skuad Albiceleste memahami batas antara rivalitas olahraga dan persoalan politik.
Namun ada satu hal yang jauh lebih menarik daripada semua romantisme sejarah.
Sepanjang turnamen, Argentina terus berjalan ditemani berbagai tudingan, kontroversi, dan perdebatan.
Setiap kemenangan selalu memancing pertanyaan baru.
Kini panggung menghadirkan lawan yang sulit dibantah kualitasnya.
Jika mampu menyingkirkan Inggris, Argentina tidak hanya melangkah ke final.
Mereka juga berpeluang membungkam suara-suara yang selama ini lebih keras daripada fakta di atas lapangan.
Nah kini publik sepak bola sedang menunggu pembuktian Albiceleste.
- Tentang Penulis:
- Pernah bekerja sebagai Wapemred Fajar Indonesia Network, Redaktur Pelaksana Disway.id dan redaktur di sejumlah media di Jawa Pos Group.






