Kirka – Nilai ekspor Provinsi Lampung ke Amerika Serikat menembus Rp17 triliun sepanjang 2025.
Capaian fantastis dari penyumbang devisa terbesar rupanya menyimpan risiko jangka panjang bagi perekonomian daerah akibat tingginya ketergantungan pada komoditas mentah.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai hubungan dagang Lampung dan Negeri Paman Sam masih terjebak dalam pola klasik.
Amerika Serikat memang menyerap 15,36 persen dari total ekspor Bumi Ruwa Jurai yang mencapai 6,64 miliar dollar AS tahun lalu.
Namun, dominasi produk sektor pertanian membuat posisi tawar daerah terlampau lemah.
“Kinerja perdagangan kita bertumpu pada lima komoditas agro. Mulai dari turunan kelapa sawit, kopi robusta, rempah lada hitam, udang beku, hingga olahan nanas dan kelapa.
“Kita sekadar penyedia bahan baku tak tergantikan, tapi lemah menentukan harga pasar,” kata Mahendra di Bandarlampung, Seni, 18 Mei 2026.
Dalam kacamata ekonomi politik, struktur ekspor bernilai triliunan rupiah belum mampu membebaskan Lampung dari jerat teori ketergantungan (dependency theory).
Daerah terus memosisikan diri sebagai price taker yang harus tunduk pada permainan harga pembeli internasional.
Fluktuasi pasar pada awal 2026 mempertegas kerentanan perdagangan global terhadap dinamika tarif dan isu pelestarian lingkungan.
Pasar Barat, terutama Amerika Serikat, semakin sensitif menyaring produk impor melalui standar keberlanjutan yang ketat.
Sejalan dengan catatan triwulanan Center of Reform on Economics (CORE), Mahendra mengingatkan ancaman nyata di balik tren perdagangan global.
Tanpa penguatan hilirisasi secara radikal, produk andalan lokal akan selalu tersandera oleh kebijakan proteksionisme hijau negara-negara maju.
Gempuran regulasi lingkungan dari negara tujuan ekspor bisa sewaktu-waktu menjegal komoditas primer jika pengolahannya tidak berkembang.
Pemangku kebijakan dituntut segera memikirkan skenario penyelamatan ekonomi.
“Pilihannya hanya satu, segera menggeser ekspor komoditas mentah ke arah industrialisasi domestik yang lebih kompleks.
“Tanpa langkah penciptaan nilai tambah, fondasi ekonomi daerah pasti tergerus gelombang ketidakpastian global,” ujarnya menegaskan.






