Bed Dryer Ambarawa, Wujud Nyata Desaku Maju untuk Kesejahteraan Petani

Bed Dryer Ambarawa, Wujud Nyata Desaku Maju untuk Kesejahteraan Petani
Potret mesin bed dryer di Kecamatan Ambarawa, Pringsewu, yang ditinjau langsung oleh tim Pemprov Lampung untuk memastikan kesiapan operasional pascapanen petani. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terus mempercepat realisasi program prioritas Desaku Maju.

Upaya tersebut diwujudkan lewat peninjauan kesiapan lokasi penerima bantuan mesin pengering gabah (bed dryer) di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Sabtu, 4 Juli 2026.

Kepala Disperindag Provinsi Lampung, Zimmi Skil, memimpin langsung pengecekan lapangan dengan didampingi Kabid PI Hendra Siswanto dan Kabid PDN Panca Hartono.

Turut hadir jajaran Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung, yakni Ardiansyah, Aswin Pratama Tirta, Robby Herdian, serta Mahendra Utama.

Anggota TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian, Mahendra Utama, memaparkan bahwa alokasi bantuan Tahun Anggaran 2026 merupakan titik penting dalam memperkuat hilirisasi sektor pertanian daerah.

“Kehadiran teknologi pengering mekanis menjadi jawaban atas tantangan pascapanen yang kerap dihadapi petani lokal.

“Kami turun langsung memastikan titik penerima di Ambarawa benar-benar siap beroperasi optimal agar program tepat sasaran,” ujar Mahendra.

Pemilihan Kecamatan Ambarawa sebagai lokasi penerima didasarkan pada pertimbangan teknis secara matang.

Kawasan ini memiliki potensi besar sebagai lumbung padi sekaligus area agropolitan strategis di Pringsewu.

Dengan hamparan lahan pertanian yang sangat luas, kebutuhan sarana pascapanen modern terasa sangat mendesak.

Terlebih, hingga 2025, Pringsewu tercatat baru memiliki dua unit mesin pengering.

Penyediaan sarana bed dryer juga sejalan dengan visi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi di tingkat akar rumput.

Penanganan pascapanen yang komprehensif diperlukan mengingat petani kerap merugi akibat metode penjemuran konvensional yang sangat bergantung pada cuaca.

“Kalau gabah dijemur secara tradisional membutuhkan waktu berhari-hari dan kualitasnya menurun.

“Akibatnya, harga jual menjadi sangat rendah,” tegas Gubernur Mirza, mengutip arahan strategisnya terkait hilirisasi pertanian.

Melalui fasilitas pengering modern, proses penyusutan kadar air menjadi jauh lebih efisien dan mutu gabah tetap terjaga.

Terpangkasnya waktu pengeringan otomatis membuka peluang baru bagi kelompok tani untuk mengembangkan usaha penggilingan mandiri guna memproduksi beras premium langsung dari desa.

“Kita ingin sebanyak-banyaknya manfaat ekonomi dari hasil panen dirasakan oleh masyarakat setempat.

“Jangan lagi ada gabah basah yang keluar daerah. Ke depan, yang keluar dari Pringsewu harus berupa beras dengan nilai jual tinggi,” tambah Mirza.

Guna memastikan visi hilirisasi berjalan mulus, tim verifikasi Pemprov Lampung melakukan serangkaian pengecekan teknis secara menyeluruh.

Mahendra menjelaskan, agenda peninjauan difokuskan pada infrastruktur penunjang esensial, bukan sekadar melihat ketersediaan lahan.

Pemeriksaan di lapangan mencakup kecukupan daya dari jaringan listrik, perhitungan presisi kapasitas pengeringan, hingga kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) kelompok tani yang kelak mengelola operasional mesin.

“Penyaluran bantuan pemerintah bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata kehadiran Pemprov Lampung dalam menjaga ketahanan pangan.

“Jika hulu dan hilirnya terintegrasi dengan baik, kesejahteraan petani bukan lagi sekadar wacana,” tutup Mahendra.