Tim Perindag Lampung Cek Kesiapan Bed Dryer Bantuan Gubernur di Ambarawa

Tim Perindag Lampung Cek Kesiapan Bed Dryer Bantuan Gubernur di Ambarawa
Tim gabungan Pemprov Lampung saat memverifikasi kesiapan lokasi bantuan mesin pengering gabah (bed dryer) di Kecamatan Ambarawa, Pringsewu. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Guna menghentikan kerugian petani akibat anjloknya harga gabah basah saat panen raya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung langsung tancap gas mengawal program hilirisasi pertanian.

Langkah konkret tersebut dibuktikan dengan turunnya tim gabungan ke Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, guna memverifikasi kesiapan titik lokasi bantuan mesin pengering mekanis (bed dryer), Sabtu, 4 Juli 2026 pagi.

Rombongan yang dipimpin Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lampung, Zimmi Skil, tiba di lokasi sejak pukul 06.15 WIB.

Inspeksi mendadak tersebut turut melibatkan jajaran Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung, termasuk Ardiansyah, Aswin Pratama Tirta, Robby Herdian, serta Mahendra Utama.

Anggota TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian, Mahendra Utama, memaparkan bahwa verifikasi teknis secara langsung mutlak diperlukan.

Menurutnya, kesiapan infrastruktur pendukung dan sumber daya manusia (SDM) pengelola di tingkat kelompok tani merupakan kunci utama agar bantuan sarana prasarana tepat sasaran.

“Kami harus memastikan ekosistem pendukungnya benar-benar matang.

“Alokasi bed dryer pada Tahun Anggaran 2026 ini bukan sekadar penyaluran alat, melainkan instrumen strategis untuk mendongkrak kemandirian ekonomi desa,” jelas Mahendra.

Pemilihan Kecamatan Ambarawa sebagai lokasi prioritas didasari oleh statusnya sebagai sentra produksi padi penyangga utama di Pringsewu.

Secara statistik, wilayah tersebut mampu menghasilkan 22.069,8 ton gabah per tahun, atau menyumbang sekitar 14,61 persen dari total produksi keseluruhan kabupaten.

Ironisnya, potensi raksasa itu belum ditopang fasilitas pascapanen yang memadai.

Mahendra mengungkapkan, hingga April 2026, wilayah Pringsewu baru memiliki dua unit mesin pengering dari alokasi tahun sebelumnya.

Keterbatasan sarana membuat para petani kerap kelabakan dan berebut menjemur hasil panen, terutama saat kondisi cuaca memburuk.

Ketimpangan infrastruktur pertanian itulah yang kini menjadi perhatian serius Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Melalui pengadaan bed dryer berkapasitas 20 ton per siklus, pemerintah membidik peningkatan drastis pada kualitas mutu gabah lokal.

“Sesuai arahan Bapak Gubernur Mirza, jangan ada lagi cerita petani terpaksa menjual gabah basah dengan harga yang sangat murah.

“Kehadiran teknologi pengering otomatis memangkas waktu proses pascapanen sekaligus mengunci kualitas gabah tetap premium,” urainya.

Selama bertahun-tahun, minimnya fasilitas pascapanen di tingkat desa membuat nilai tambah dari proses pengolahan lebih banyak dinikmati oleh daerah lain.

Praktik merugikan semacam itu yang kini coba diputus oleh pemerintah daerah melalui penyediaan mesin pengering modern.

“Mulai sekarang, siklus itu harus kita hentikan. Hilirisasi pertanian wajib berjalan terintegrasi dari hulu ke hilir, sehingga keuntungan maksimal dan kesejahteraan secara utuh bisa langsung dirasakan oleh para petani kita di kampung halamannya sendiri,” pungkas Mahendra.