Kirka – Pengiriman 14.000 ton Palm Kernel Expeller (PKE) senilai Rp20 miliar ke Selandia Baru lebih dari sekadar angka perdagangan.
Di mata Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, langkah PT Selaras Mitra Sarimba adalah wujud nyata visi besar merombak Provinsi Lampung menjadi episentrum industri pengolahan komoditas di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
Volume ekspor yang masif secara otomatis membuka gerbang lebih lebar bagi produk turunan sawit lokal untuk unjuk gigi di etalase global.
Mahendra melihat pencapaian monumental bernilai puluhan miliar rupiah sejalan dengan ikhtiar pemerintah daerah dalam membangun ekosistem hulu-hilir yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Gubernur Rahmat Mirzani Djausal berulang kali menekankan pentingnya penguatan ekosistem hulu-hilir.
“Lewat ekspor berskala besar kita melihat buktinya.
“Hubungan antara petani, pengolah, dan eksportir bukan lagi sebatas transaksi sesaat, melainkan sebuah kolaborasi berjangka panjang,” papar Mahendra di Bandarlampung, Jumat, 3 Juli 2026.
Analisis Mahendra bertumpu pada komitmen Rahmat Mirzani Djausal.
Sang gubernur dalam berbagai forum rutin mengingatkan bahwa hilirisasi mutlak harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat bawah.
“Saya ingin setiap kontainer yang berangkat membawa kesejahteraan.
“Harus ada korelasi positif antara naiknya volume ekspor dengan tingkat kemakmuran petani di desa-desa,” tegas Mirza, sapaan akrab gubernur.
Lebih jauh, geliat ekspor bungkil inti sawit sekaligus menjadi katalisator bagi target ambisius Pemerintah Provinsi Lampung yang tengah membidik realisasi investasi hingga Rp20 triliun sepanjang 2026.
Arus keluar PKE diyakini mampu bertindak sebagai magnet penarik modal segar, seraya melebarkan penetrasi pasar internasional.
Optimisme tentu berakar pada pondasi ekonomi agraris Lampung yang terbilang kokoh.
Dengan hamparan lahan seluas 3,5 juta hektare yang mayoritas didedikasikan untuk sektor pertanian, provinsi di ujung selatan Sumatera memegang status penting sebagai salah satu lumbung penghasil komoditas strategis nasional.
Kendati menyimpan potensi raksasa, menembus ketatnya standar pasar Selandia Baru menuntut kerja kolektif lintas sektor.
Atas dasar pemikiran rasional, Mahendra secara khusus mengapresiasi Badan Karantina Indonesia dan otoritas pelabuhan yang konsisten mengawal kelancaran kelengkapan administrasi hingga jaminan keamanan kargo.
“Ekspor ke Selandia Baru adalah awal dari babak baru kebangkitan industri perkebunan kita.
“Melalui sinergi solid antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pendukung, Lampung memiliki seluruh prasyarat untuk mengukuhkan posisi sebagai pemain penting di pasar global,” tutup Mahendra.






