Kirka – Kesejahteraan petani di Provinsi Lampung mencatatkan tren positif pada pertengahan tahun.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) wilayah pada periode Juni 2026 mengalami kenaikan sebesar 1,48 persen, sukses bertengger di angka 129,90 dibandingkan bulan sebelumnya.
Pencapaian menggembirakan tersebut rupanya mendapat dorongan kuat dari geliat komoditas ketela pohon atau singkong.
Tingginya kebutuhan bahan baku dari berbagai pabrik tapioka di Bumi Ruwa Jurai memicu lonjakan harga jual produk pertanian.
Besarnya permintaan pabrik ternyata berbenturan dengan terbatasnya ketersediaan pasokan panen lokal.
Hukum ekonomi inilah yang pada akhirnya mengerek naik Indeks Harga yang Diterima Petani (It) pada subsektor tanaman pangan hingga 2,94 persen.
Berkat lonjakan harga komoditas andalan tersebut, NTP subsektor pangan terkerek 2,40 persen ke posisi 110,01.
Laporan resmi Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Kepala BPS Provinsi Lampung, Dr. Ahmadriswan Nasution, merangkum dengan gamblang fenomena pasar tersebut.
“Bila dilihat dari perubahan It-nya, faktor yang menjadi pemicu adalah komoditas ketela pohon dan gabah.
“Harga ketela pohon naik akibat tingginya permintaan bahan baku dari pabrik tapioka yang tidak sebanding dengan ketersediaan pasokan panen lokal,” tulis laporan BPS, dikutip Kamis, 2 Juli 2026.
Bukan hanya petani singkong dan padi yang sedang tersenyum lebar.
Cipratan untung juga dirasakan oleh para pekebun.
BPS melaporkan subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) turut menyumbang tren positif dengan peningkatan 2,08 persen ke angka 162,34.
Sama halnya dengan singkong, komoditas penyumbang terbesarnya adalah karet yang permintaannya melonjak di tengah minimnya stok lokal.
Kendati angka penerimaan panen melesat, para pekerja sektor agraris tetap harus memutar otak mengatur keuangan.
Biaya hidup dan modal tanam harian perlahan merambat naik seiring bergeraknya roda ekonomi.
BPS mendata Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di pedesaan tumbuh 0,55 persen.
Rupanya, beban yang paling menguras kantong disumbang oleh kelompok transportasi.
Angka pengeluaran untuk mobilisasi tercatat melonjak hingga 1,80 persen dalam sebulan terakhir, disusul ongkos makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,52 persen.
Meski dihantui mahalnya ongkos jalan, daya beli masyarakat desa secara umum terbilang aman.
Pertumbuhan indeks penerimaan panen yang menembus 2,16 persen masih jauh lebih tinggi ketimbang beban pengeluaran mereka yang tertahan pada kenaikan 0,67 persen.
Fakta statistik jni membuktikan bahwa para pahlawan pangan di Lampung sukses meraup untung optimal sepanjang Juni 2026.






