Hilirisasi Singkong: Mocaf sebagai Penggerak Ekonomi Inklusif

Hilirisasi Singkong: Mocaf sebagai Penggerak Ekonomi Inklusif
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama menilai pengolahan singkong menjadi tepung mocaf mampu menambal potensi hilangnya pendapatan daerah dan menciptakan pemerataan ekonomi masyarakat Lampung. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Posisi Lampung sebagai produsen singkong terbesar nasional belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani.

Mengubah ubi kayu menjadi tepung modified cassava flour (mocaf) kini menjadi jalan keluar untuk menambal kebocoran potensi pendapatan daerah sekaligus menciptakan ekonomi inklusif.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membedah langkah pengolahan mocaf dari kacamata makro.

Transformasi komoditas mentah menjadi tepung sehat pengganti terigu bukan sekadar diversifikasi pangan biasa, melainkan strategi jitu membangun resiliensi ekonomi daerah.

Menurut Mahendra, hilirisasi memaksa daerah melakukan pengolahan mandiri sehingga nilai tambah melesat tajam.

“Tanpa pabrikasi, sumber daya unggulan hanya akan terus keluar dalam bentuk mentah dengan harga murah,” jelasnya, Minggu,12 Juli 2026.

Data Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat analisis sang pemerhati.

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mengungkap sebuah ironi perputaran uang di wilayahnya.

Dari total sumber daya senilai Rp150 triliun, angka yang berhasil diolah secara lokal belum menembus Rp40 triliun.

Ketimpangan serapan industri pengolahan lantas membuat potensi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hingga Rp9 triliun menguap begitu saja.

Guna menghentikan kerugian beruntun, Gubernur Mirza menetapkan Kabupaten Pringsewu sebagai sentra produksi mocaf.

“Pengolahan singkong menjadi mocaf tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi serta memperkuat ketahanan pangan daerah,” tegas Gubernur Mirza dalam berbagai kesempatan.

Pemerintah menyadari industrialisasi butuh modal besar.

Setelah sukses membukukan realisasi investasi Rp15 triliun pada 2025, target tahun 2026 dipatok naik menjadi Rp20 triliun.

Mirza secara terbuka menggandeng kalangan pengusaha di bawah bendera Apindo untuk berani menanamkan modal di sektor pengolahan agroindustri.

Gubernur mengingatkan ancaman nyata di depan mata jika pabrik tidak segera dibangun.

Ketika produktivitas panen petani meningkat tajam namun keran hilirisasi mampet, harga pasar otomatis akan hancur.

Peluang investasi harus ditangkap bersama supaya pondasi ekonomi masyarakat makin kokoh.

Melihat agresivitas kebijakan pemerintah, Mahendra Utama sangat optimistis program industrialisasi mocaf mampu menjawab masalah klasik ketimpangan wilayah.

Arus modal yang masuk ke sentra-sentra pengolahan dipastikan langsung membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat akar rumput.

“Hilirisasi singkong akhirnya bukan sekadar menghasilkan tepung, melainkan memutar roda pemerataan sumber daya produktif yang ampuh menekan laju kemiskinan,” tutur Mahendra menutup penjelasannya.