Kirka – Tingkat pendidikan anak petani kini menjadi parameter utama keberhasilan pembangunan sumber daya manusia di Provinsi Lampung.
Kebiasaan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menanyakan partisipasi sekolah saat berdialog dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dinilai sebagai langkah untuk menciptakan regenerasi agropreneur.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut pendekatan kepala daerah tersebut mencerminkan strategi jangka panjang yang mengakar pada realitas sosial.
Kesejahteraan masyarakat agraris berbanding lurus dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan perdesaan.
“Rendahnya angka partisipasi perguruan tinggi di Lampung selama bertahun-tahun bukan sekadar persoalan biaya mahal.
“Akar masalahnya ada pada kondisi ekonomi keluarga. Ketika pendapatan kelompok tani meningkat, daya beli terhadap layanan pendidikan otomatis terdongkrak,” jelas Mahendra di Bandarlampung, Jumat, 10 Juli 2026.
Fakta di lapangan menunjukkan tren positif penguatan ekonomi.
Berdasarkan data semester pertama 2026, angka penjualan sepeda motor di Kabupaten Mesuji tercatat naik 42 persen.
Tren serupa terjadi di Tulangbawang Barat dengan kenaikan 38 persen, bahkan pembelian mobil baru di kawasan tersebut melesat tajam hingga 86 persen.
Mahendra memandang lonjakan statistik tersebut bukan semata pergeseran gaya hidup konsumtif.
Peningkatan daya beli merupakan indikator konkret dari perbaikan taraf hidup yang berujung pada kemampuan keluarga menyekolahkan putra-putri mereka ke jenjang sarjana.
Langkah Pemerintah Provinsi Lampung, lanjut Mahendra, sejalan dengan teori modal manusia (human capital theory).
Investasi pada sektor pendidikan menempati posisi paling produktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Visi besar pencetakan SDM unggul kerap disuarakan langsung oleh Gubernur Mirza.
Salah satunya saat berkunjung ke wilayah Lampung Barat beberapa waktu lalu, di mana kepala daerah mendorong warga agar berani menyekolahkan anak hingga jenjang tertinggi.
“Harapan saya anak-anak di Suoh dan BNS semuanya dapat menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya.
“Jika orang tuanya bertani, anaknya tidak boleh sekadar menjadi petani juga,” tegas Gubernur dalam kunjungannya.
Merespons pernyataan tersebut, Mahendra meluruskan makna pesan Gubernur agar tidak disalahpahami oleh publik.
Pemerintah daerah sama sekali tidak berniat menjauhkan generasi muda dari sektor agraris atau meminta mereka meninggalkan desa.
Target utamanya justru melahirkan pengusaha agro (agropreneur) baru, merujuk pada kisah sukses tokoh lokal seperti Hj. Atun di Mesuji Timur.
Lulusan perguruan tinggi diharapkan pulang membawa inovasi teknologi, bertransformasi menjadi petani modern, serta mengambil peran penuh sebagai motor penggerak hilirisasi pertanian di kampung halamannya.






