Program Pertanian Lampung 2026: 3.000 Hektar Bibit dan Bed Dryer untuk Petani Suoh

Program Pertanian Lampung 2026: 3.000 Hektar Bibit dan Bed Dryer untuk Petani Suoh
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menjelaskan rancangan bantuan bed dryer dan ribuan hektar bibit unggul guna mendongkrak nilai jual panen komoditas petani Suoh dan Bandar Negeri Suoh pada 2026 mendatang. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Pemerintah Provinsi Lampung terus mempercepat langkah hilirisasi sektor pertanian di Kabupaten Lampung Barat.

Melalui program strategis periode 2025-2026, ribuan hektar bibit unggul serta fasilitas pasca panen modern disiapkan untuk mendongkrak kesejahteraan petani, khususnya di wilayah Kecamatan Suoh dan Bandar Negeri Suoh (BNS).

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai kebijakan Pemprov di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal merupakan terobosan terukur.

Menurutnya, skema bantuan yang digelontorkan bukan sekadar janji di atas kertas, melainkan wujud nyata penciptaan nilai tambah bagi masyarakat agraris setempat.

“Langkah yang diambil Gubernur sangat konkret. Fokus utamanya mengarah pada perbaikan kualitas pasca panen agar harga jual komoditas petani bisa melonjak tajam saat masuk ke pasar,” ujar Mahendra saat membedah realisasi program tersebut, Rabu, 8 Juli 2026.

Mahendra membeberkan, realisasi fasilitas penanganan pasca panen atau Post Harvest Center (PHC) telah berjalan sejak 2025 dengan alokasi awal sembilan titik sasaran.

Rinciannya meliputi lima lokasi di Bandar Negeri Suoh serta empat lainnya beroperasi di Suoh.

Pada periode yang sama, pemerintah turut mendistribusikan tiga unit alat pengering gabah (bed dryer).

Dua unit ditempatkan di BNS dan satu unit bagi kelompok tani Suoh.

Memasuki tahun 2026, kapasitas tersebut dipastikan bertambah melalui penyediaan delapan titik PHC baru yang dibagi rata untuk kedua kecamatan, menjadikan total keseluruhan mencapai 17 titik.

Seiring tingginya kebutuhan di lapangan, Mahendra memproyeksikan alokasi bed dryer dapat menyentuh angka 10 unit hingga tahun 2028 mendatang.

Ia turut mengutip penegasan Gubernur Rahmat yang memposisikan alat pengering tersebut sebagai solusi mutlak menghadapi anomali cuaca.

Melalui teknologi itu, gabah dipastikan tetap kering sempurna tanpa memusingkan intensitas hujan yang kerap merugikan petani saat musim panen tiba.

Beralih pada subsektor perkebunan, Pemprov Lampung mematangkan distribusi bantuan bibit seluas 3.000 hektar sepanjang tahun 2026.

Kakao mendominasi area penanaman dengan cakupan 2.000 hektar, disusul perluasan kopi 700 hektar, dan lada 300 hektar.

Pendistribusiannya dirancang dengan perhitungan matang.

Setiap hektar lahan kakao maupun kopi akan disuplai seribu batang bibit unggul beserta subsidi upah tenaga kerja senilai Rp1.170.000.

Sementara bagi komoditas lada, petani berhak atas 800 batang bibit, 400 kilogram pupuk organik, serta dukungan dana tenaga kerja sebesar Rp1.620.000 per hektar.

“Terobosan luar biasa sedang disiapkan bagi petani daerah sana.

“Kakao, kopi, maupun lada merupakan etalase komoditas unggulan Lampung Barat yang pamornya telah lama menembus pasar internasional.

“Stimulus bibit unggul pasti mendongkrak volume ekspor ke depan,” tegas Mahendra.

Sebagai bentuk apresiasi pemerintah daerah menyiapkan insentif berlapis bagi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang terbukti sukses memaksimalkan operasional bed dryer.

Bantuan lanjutan berupa mesin pencacah limbah, Rice Milling Unit (RMU) untuk menggiling beras berkualitas premium, hingga mesin pembuat pelet pakan ternak siap diterjunkan langsung ke desa-desa berprestasi.

Dari kacamata analitik, Mahendra melihat kebijakan berjenjang tersebut merepresentasikan implementasi langsung dari konsep rantai nilai (value chain).

Pola serupa sangat sejalan dengan teori keunggulan kompetitif gagasan Michael Porter, di mana setiap mata rantai produksi harus bermuara pada penciptaan nilai tambah secara optimal.

“Rantai industrinya dibangun secara terintegrasi. Petani tidak lagi dibiarkan berjuang sendiri memikirkan nasib hasil panen mereka.

“Kehadiran mesin pengolah gabah dan pencacah limbah otomatis menaikkan derajat mereka dari sebatas produsen bahan mentah, bermetamorfosis menjadi pengolah hasil pertanian berdaya saing tinggi,” pungkasnya.