Strategi Hilirisasi Industri dan Penetrasi Pasar: Kunci Ketahanan Ekonomi Lampung

Strategi Hilirisasi Industri dan Penetrasi Pasar: Kunci Ketahanan Ekonomi Lampung
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, saat memaparkan analisisnya terkait pentingnya strategi hilirisasi industri untuk memperkuat ketahanan ekonomi Provinsi Lampung. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Transformasi struktur ekonomi dari sektor agraris tradisional menuju industri pengolahan menjadi syarat mutlak untuk membangun ketahanan wilayah di Provinsi Lampung.

Langkah memajukan sektor hilir diyakini mampu menciptakan nilai tambah produk lokal secara berkelanjutan.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menggarisbawahi bahwa akselerasi roda perekonomian daerah bertumpu pada sinergi yang kokoh antara sektor hulu dan hilir.

Menurutnya, pondasi harus dibangun mulai dari tingkat paling dasar, yakni penanganan pascapanen hasil pertanian.

“Optimalisasi pasca panen harus mendapat perhatian serius.

“Tanpa penanganan yang tepat, nilai tambah yang diharapkan dari program hilirisasi akan sulit terwujud,” jelas Mahendra dalam keterangannya, Jumat, 10 Juli 2026.

Eksponen 98 ini merujuk pada langkah nyata pendistribusian bantuan teknologi mesin pengering (bed dryer) ke berbagai sentra produksi strategis di Lampung.

Penerapan mekanisasi pertanian semacam itu terbukti efektif menekan angka kerugian hasil panen.

Secara bertahap, kebijakan tersebut sukses mendongkrak Nilai Tukar Petani (NTP) sekaligus mempercepat perputaran uang di perdesaan.

Upaya mengubah kebiasaan lama petani rupanya turut diamini oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.

Bahkan gubernur memastikan pemerintah provinsi akan terus mengawal proses peralihan menuju industri yang lebih modern.

“Kita berkomitmen penuh mewujudkan hilirisasi komoditas unggulan Lampung agar petani tidak lagi menjual produk mentah, melainkan produk olahan bernilai tinggi,” tegas Gubernur Mirza, dalam berbagai kesempatan.

Lebih jauh, Mahendra menilai perbaikan di sektor hulu harus diimbangi dengan pemberdayaan Industri Kecil Menengah (IKM) guna memperluas ketersediaan lapangan kerja.

Hal tersebut sejalan dengan pelaksanaan Program Gerakan Cipta Ekonomi Produktif (GERCEP).

Lewat program itu, para pelaku IKM mendapat pendampingan terkait legalitas usaha hingga standarisasi mutu produk.

Skema pendampingan ini dinilai berhasil menghubungkan serta memperkuat rantai pasok lokal dari desa hingga berdaya saing di tingkat regional.

Ketika kapasitas produksi mulai meningkat, tantangan berikutnya bergeser pada stabilitas tata niaga.

Manajemen distribusi logistik pangan memegang peranan penting untuk mengendalikan inflasi, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Merespons tantangan pasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat langsung meluncurkan Gerakan Serentak Penetrasi Pasar Terpadu.

Langkah preventif ini diambil guna mencegah gejolak harga di tingkat konsumen.

“Melalui penetrasi pasar yang masif dan terstruktur, kita memastikan stabilitas pasokan bahan pangan pokok demi menjaga keseimbangan neraca perdagangan daerah,” kata Kepala Disperindag Lampung, Zimmi Skil.

Serangkaian kebijakan dari hulu hingga hilir kini mulai memperlihatkan hasil positif.

Diversifikasi produk industri pengolahan terus mencatatkan performa impresif sepanjang paruh pertama tahun ini.

Pembukaan peluang ekspor baru, khususnya pengiriman produk turunan kelapa sawit ke pasar internasional, bahkan sukses mencatatkan surplus neraca perdagangan.

Capaian ekspor secara langsung mempertegas posisi strategis Lampung di tengah peta perdagangan nasional maupun global.