Kirka – Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memproyeksikan Provinsi Lampung memiliki potensi besar untuk segera bertransformasi menjadi pusat hilirisasi komoditas pangan tingkat nasional.
Optimisme tersebut didasari oleh langkah dan komitmen Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam memajukan sektor industri pengolahan daerah.
Sepanjang tahun 2024, sektor industri pengolahan di Lampung mencatatkan pertumbuhan pesat di angka 9,09 persen.
Capaian tersebut langsung menempatkan sektor pengolahan sebagai penyumbang utama bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Menurut Mahendra, tren positif pertumbuhan ekonomi harus ditopang oleh pondasi infrastruktur dan jaminan keamanan berinvestasi.
Pemerintah Provinsi Lampung saat ini tengah memfokuskan perbaikan jalan raya menggunakan standar beton.
Spesifikasi infrastruktur dengan ketahanan 15 hingga 20 tahun dinilai sebagai solusi paling rasional untuk memangkas tingginya biaya logistik yang kerap dikeluhkan pengusaha.
Fasilitas fisik itu turut dibarengi dengan kepastian hukum dari kepala daerah.
Mahendra menyoroti sikap tegas Gubernur yang berani memasang badan demi terciptanya iklim usaha kondusif.
“Saya akan menjamin segala aktivitas usaha Bapak, Ibu sekalian yang ada di Provinsi Lampung selama saya jadi gubernur,” tegas Gubernur dalam kutipan yang disampaikan Mahendra, menggarisbawahi komitmen pemerintah terhadap keamanan investasi, Minggu, 12 Juli 2026.
Pergeseran Menuju Ekonomi Pedesaan
Selain menyasar pelaku industri skala besar, arah kebijakan pembangunan juga mulai bergeser ke pendekatan bottom up economy.
Desa tidak lagi berstatus sebagai pinggiran, melainkan diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Mahendra menilai bahwa kepala desa kini memegang peran yang sangat strategis.
Para pemimpin di tingkat akar rumput diwajibkan menjadi teladan, sumber inspirasi, sekaligus motor penggerak inovasi bagi warganya.
Pendekatan ekonomi pedesaan akan langsung diintegrasikan dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
Lewat skema terpadu, desa akan berfungsi sebagai pemasok bahan baku utama yang secara otomatis menghidupkan roda perekonomian lokal.
Target PDRB 2029
Merujuk pada teori resiliensi ekonomi, keberhasilan program hilirisasi mutlak membutuhkan ekosistem yang saling terhubung.
Mahendra memaparkan perlunya kolaborasi tanpa sekat antara pemerintah, pelaku industri, petani, hingga kalangan akademisi dan lembaga penelitian.
Apabila percepatan pembangunan jalan, penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), dan integrasi sistem dari hulu ke hilir dapat dijalankan secara konsisten, Mahendra meyakini visi besar daerah dapat tercapai.
Target kontribusi sektor industri terhadap PDRB sebesar 25 persrn pada tahun 2029 dinilai sangat realistis dan berada dalam jalur yang tepat untuk direalisasikan.






