5 Kabupaten Penyangga Cabai Lampung, Dari Lumbung Pangan hingga Ekspor Global

5 Kabupaten Penyangga Cabai Lampung, Dari Lumbung Pangan hingga Ekspor Global
Ilustrasi Mahendra Utama di tengah aktivitas pusat pengumpulan ekspor cabai Lampung, di mana cabai segar dan cabai jawa lokal disiapkan untuk pasar global, mewujudkan slogan "Dari Lampung Untuk Dunia". Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Sektor pertanian Provinsi Lampung menyimpan potensi besar pada komoditas cabai.

Tak sekadar memenuhi kebutuhan dapur warga lokal, hasil panen dari lima kabupaten penyangga kini sukses menembus ketatnya pasar Asia hingga Timur Tengah.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai tren positif volume panen membawa daerah berjuluk Sang Bumi Ruwa Jurai duduk nyaman di deretan 10 besar provinsi penghasil cabai se-Indonesia.

Ia merujuk pada catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang memotret adanya lonjakan pasokan secara tahunan.

“Produksi varietas cabai besar sepanjang tahun 2023 terekam menyentuh 71.392 kuintal.

“Ada kenaikan lumayan berlipat kalau kita bandingkan dengan capaian 2022 pada angka 69.146 kuintal,” ucap Mahendra saat membedah data pertanian komoditas lokal, Kamis, 30 Juli 2026.

Penyebaran lahan budidaya bertumpu pada lima kawasan utama.

Lampung Timur sampai sekarang masih memegang kendali sebagai sentra panen terbesar.

Angka panen Kecamatan Metro Kibang saja sepanjang 2023 menembus 39.770,85 kuintal untuk jenis besar, disusul 8.350,90 kuintal tipe keriting, dan 2.069,37 kuintal rawit.

Skala panen masif membuat wilayah pesisir timur didaulat menjadi lokasi pusat pembukaan Gerakan Tanam Cabai 2024.

Bergeser ke arah tengah, ada Kabupaten Lampung Tengah yang sohor lewat komoditas “lado”.

Petani di Kampung Wonosari mengambil langkah berbeda dengan fokus membudidayakan cabai jawa (Piper retrofractum Vahl).

“Orientasinya sangat jelas, untuk mendulang devisa.

“Rempah kering dari Wonosari selalu laku keras di pasar luar negeri. Rutinitas pengirimannya membidik China, Arab Saudi, dan India,” kata Mahendra.

Untuk urusan suplai meja makan warga ibu kota Bandarlampung, ketergantungan pasokan bertumpu pada hasil kebun Kabupaten Tanggamus.

Hanya saja, Mahendra memberi catatan khusus terkait kerentanan faktor cuaca.

Musim kemarau panjang beberapa waktu lalu sempat membuat hasil panen petani setempat anjlok parah.

Merespons ancaman iklim, langkah mitigasi datang dari Pemerintah Kabupaten Mesuji lewat program pembagian 100 ribu bibit gratis.

Skema penanaman massal digulirkan guna meredam fluktuasi harga pasar ketika masuk bulan-bulan paceklik.

Sementara di kawasan dataran tinggi, Kabupaten Lampung Barat mengambil peran sebagai penyuplai kawasan padat penduduk.

Area Kecamatan Sukau sukses mencetak angka panen 5.947 kuintal jenis rawit sepanjang masa tanam lalu.

Pemilihan benih adaptif rupanya menjadi rahasia sukses pekebun lokal meraup untung.

Guna menjaga kualitas hasil petik segar, mayoritas petani memilih bibit Ori 212 karena terbukti punya daya tahan tinggi membendung serangan penyakit antraknosa.

Rantai logistik lintas pulau pun kini makin hidup.

Nyaris saban hari, truk-truk pengangkut rutin mendistribusikan muatan cabai segar melintasi Sumatera bagian selatan menuju pasar induk di seputaran DKI Jakarta hingga kawasan Sumatera Barat.

“Keberhasilan mengamankan stok dalam negeri sekaligus merajai pasar luar negeri menjadi bukti sahih ketangguhan petani kita.

“Jika ekosistem hulu ke hilir terus dijaga bersama, Lampung bukan sekadar lumbung pangan biasa, melainkan pemain utama agrobisnis yang diperhitungkan secara global,” pungkas Mahendra.