Strategi Lampung Ubah Desa Jadi Eksportir Produk Unggulan Berdaya Saing Global

Strategi Lampung Ubah Desa Jadi Eksportir Produk Unggulan Berdaya Saing Global
Desa Lampung siap go global! Strategi jitu Pemprov Lampung bangun rantai pasok produk unggulan desa menuju pasar internasional. Foto: Arsip Adpim/Kirka/Iz

Kirka – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung merancang skema pergeseran paradigma pembangunan perdesaan secara fundamental.

Kebijakan baru dirumuskan untuk mengangkat status desa agar tidak sekadar menjadi wilayah penyedia bahan mentah, melainkan naik kelas sebagai pelaku rantai pasok ekspor global.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebutkan terobosan pemerintah daerah sangat relevan dengan teori Local Economic Development (LED) yang menitikberatkan pemberdayaan ekonomi dari potensi lokal.

Penerapan konsep Global Value Chain (GVC) juga mulai diaplikasikan supaya produk buatan masyarakat desa terhubung langsung dengan sistem pasar internasional.

“Desa didorong masuk ke dalam ekosistem pasokan ekspor yang terukur, aman, serta memberi nilai tambah secara riil bagi perekonomian masyarakat setempat,” ungkap Mahendra, Selasa, 22 September 2026.

Pemantapan program lintas sektor baru saja dimatangkan melalui rapat koordinasi di bawah arahan Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela.

Fokus utama penyusunan strategi mencakup pemetaan menyeluruh terhadap komoditas potensial desa, mulai dari kalkulasi ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, pemenuhan standar mutu, hingga analisis celah pasar luar negeri.

Provinsi Lampung selama bertahun-tahun sudah dikenal lewat pengiriman kopi, kakao, nanas, maupun pisang.

Melalui identifikasi ketat serta penguatan kualitas, berbagai produk alternatif dari wilayah perdesaan diyakini memiliki peluang setara untuk merambah pasar mancanegara.

Keberhasilan pelaksanaan program membutuhkan sinergi solid lintas perangkat daerah bersama koperasi desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pelaku UMKM, dan asosiasi eksportir.

Sebagai langkah nyata di lapangan, UMKM berpengalaman akan ditunjuk menjadi mitra pendamping bagi pelaku usaha desa saat merintis jalur perdagangan antar negara.

Tujuan utama pembinaan bukan sebatas perayaan pengiriman barang perdana, melainkan pembentukan keberlanjutan pasar, diversifikasi komoditas, hingga pencapaian pesanan berkelanjutan atau repeat order dari konsumen asing.

“Pengembangan ekspor merupakan wujud nyata pemberdayaan masyarakat desa secara berkesinambungan, bukan sekadar aktivitas mengejar devisa perdagangan luar negeri semata,” tegas Mahendra.