Hapus Drama dan Adu Jotos di Porprov X Lampung 2026, Panitia Ikat TD hingga Larang Peluit Bunyi Tanpa Ambulans

Hapus Drama dan Adu Jotos di Porprov X Lampung 2026, Panitia Ikat TD hingga Larang Peluit Bunyi Tanpa Ambulans
Koordinator Pertandingan Porprov X Lampung 2026, Suhaimi alias Mister Emik (tengah) memaparkan empat aturan ketat pengamanan dan ketertiban laga kepada jajaran perangkat pertandingan. Foto: Arsip KONI/Kirka/Iz

Kirka – Panitia Pelaksana Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) X Lampung 2026 menerapkan empat aturan mengikat guna mencegah kericuhan dan praktik curang di arena pertandingan.

Seluruh Technical Delegate (TD) diwajibkan menandatangani pakta integritas, sedangkan wasit dilarang memulai laga apabila mobil ambulans belum bersiaga di lokasi.

Koordinator Pertandingan Porprov X Lampung 2026, Suhaimi, menyampaikan langsung ketetapan wajib bagi seluruh cabang olahraga (cabor) pada Minggu, 8 November 2026.

Pria yang akrab disapa Mister Emik menegaskan, langkah antisipasi ekstra disiapkan agar pesta olahraga terbesar di Lampung berjalan aman, tertib, lancar, dan bebas dari drama antar kontingen.

“Kami tidak ingin ada celah untuk atlet siluman atau kecurangan sekecil apa pun.

“Screening ulang yang ketat dan penandatanganan pakta integritas bagi setiap Technical Delegate adalah harga mati untuk menjaga marwah dan sportivitas Porprov X Lampung 2026,” tegas Mister Emik.

Pemeriksaan ulang dokumen peserta tetap diberlakukan panitia meski tahap pendaftaran atlet telah resmi ditutup.

Verifikasi berlapis dijalankan guna mencocokkan identitas atlet yang turun bertanding dengan data pendaftaran awal, sekaligus membabat habis penyelundupan pemain tambahan ilegal yang kerap berujung protes keras hingga kisruh antar daerah.

Selain menertibkan daftar kontingen, panitia mengunci netralitas perangkat pertandingan serta kepemimpinan wasit di lapangan lewat dokumen pakta integritas.

“Seluruh perangkat pertandingan dan wasit wajib menjaga netralitas serta bekerja profesional. Tidak boleh ada permainan dibalik pertandingan, semuanya harus berjalan sesuai aturan,” ujar Suhaimi.

Pengawasan di lapangan turut diperketat pada sejumlah cabor yang rawan gesekan fisik antarpemain maupun suporter.

Olahraga permainan seperti sepak bola, bola basket, dan bola voli, ditambah deretan nomor bela diri berintensitas kontak fisik tinggi masuk dalam daftar pengamanan ekstra.

Guna mencegah insiden adu jotos di venue pertandingan, bidang pertandingan menggandeng personel Satpol PP serta meminta dukungan pengamanan penuh dari jajaran Polresta Bandar Lampung.

“Cabor permainan dan bela diri yang memiliki kontak fisik tinggi mendapat pengawasan ekstra.

“Koordinasi pengamanan melibatkan Satpol PP, dan kami juga meminta dukungan pengamanan dari Polresta Bandar Lampung agar seluruh laga berjalan kondusif,” jelasnya.

Di luar urusan pengamanan laga dan ketertiban administrasi, keselamatan fisik atlet menjadi syarat mutlak sebelum peluit pertandingan dibunyikan.

Sesuai standar operasional yang ditetapkan, setiap pertandingan dilarang dimulai apabila petugas medis beserta unit ambulans belum berada di lokasi minimal 30 menit sebelum jadwal laga.

Panitia bahkan telah mendata daftar rumah sakit rujukan terdekat dari masing-masing venue guna mempercepat proses evakuasi apabila terjadi kondisi darurat di tengah perebutan medali.

“Urusan keselamatan atlet tidak boleh dianggap sepele, sehingga tim medis dan ambulans wajib standby setengah jam sebelum laga.

“Intinya, bertanding boleh ngotot, mengejar medali boleh habis-habisan, tetapi fair play tetap nomor satu,” pungkas Mister Emik.