Kirka – Peringatan Hari Kakao Indonesia (HKI) ke-14 di Kebun Benih Way Berulu, Kabupaten Pesawaran, menjadi tonggak baru transformasi ekonomi daerah berbasis hilirisasi komoditas perkebunan.
Eksponen 98, Mahendra Utama, menyebut perhelatan nasional di Bumi Andan Jejama bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan penggerak nyata bagi kesejahteraan petani dan penguatan industri pengolahan di Provinsi Lampung.
“Peringatan HKI ke-14 di Kebun Benih Way Berulu membawa dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
“Kabupaten Pesawaran merupakan tulang punggung produksi kakao Lampung yang berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Mahendra Utama, Jumat, 6 November 2026.
Berdasarkan data perkebunan tahun 2025, Kabupaten Pesawaran memiliki luas areal tanam kakao mencapai 25.829 hektare dengan total produksi sebesar 21.803 ton.
Angka capaian dari satu kabupaten saja sudah menyumbang separuh dari keseluruhan produksi kakao tingkat provinsi.
Mahendra menjelaskan, besarnya kapasitas produksi di Pesawaran membuka peluang luas bagi penyerapan tenaga kerja lokal sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Namun, lompatan ekonomi baru akan terasa maksimal apabila komoditas unggulan daerah tidak lagi dijual dalam wujud bahan mentah ke pasar luar negeri.
“Selama bertahun-tahun, sebagian besar hasil panen kakao Lampung diekspor dalam bentuk biji mentah.
“Akibatnya, nilai ekonomi belum sepenuhnya dinikmati oleh para petani di tingkat tapak,” kata Mahendra.
Guna mengubah struktur perdagangan komoditas mentah, gaung hilirisasi dalam HKI ke-14 perlu terus diperkuat melalui pengembangan industri pengolahan di dalam negeri.
Aktivitas pengolahan lokal mampu mendongkrak harga jual biji kakao di tingkat petani, menciptakan lapangan pekerjaan baru, serta menghadirkan multiplier effect terhadap perputaran sektor riil.
Dalam perspektif ekonomi, Mahendra mengaitkan transformasi industri pengolahan kakao dengan teori keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang digagas pakar strategi bisnis dunia, Michael Porter.
“Sebagaimana penegasan Michael Porter dalam teori keunggulan kompetitif, nilai tambah tidak lagi berasal dari kekayaan alam semata.
“Kemakmuran daerah justru lahir dari kemampuan mengolah komoditas serta melahirkan inovasi produk,” tuturnya.
Lebih lanjut, Mahendra menyampaikan apresiasi kepada jajaran kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang saling menopang ekosistem perkebunan di Lampung.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor dari hulu ke hilir merupakan pondasi utama bagi kebangkitan kakao nasional.
Penghargan pertama disampaikan Mahendra kepada Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan yang telah memprakarsai penyelenggaraan HKI sekaligus mendorong Rencana Aksi Nasional Kakao Berkelanjutan.
Payung kebijakan dari pemerintah pusat menjadi kompas bagi daerah dalam menata rantai pasok komoditas secara berkesinambungan.
Dukungan nyata di sektor permodalan turut dihadirkan Kementerian Kehutanan melalui Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesawaran.
Instansi kehutanan telah memfasilitasi penyaluran Fasilitas Dana Bergulir (FDB) dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) kepada 24 petani kakao di Kabupaten Pesawaran dengan nilai pinjaman Rp10 juta hingga Rp20 juta per anggota.
“Akses pembiayaan dari BPDLH sangat membantu petani dalam merawat kebun secara produktif.
“Di sisi budidaya, langkah Kementerian Pertanian yang terus mendorong penggunaan benih unggul serta penerapan Good Agricultural Practices (GAP) di lapangan juga memberi dampak positif bagi peningkatan mutu panen,” ucap Mahendra.
Pada tingkat provinsi, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menunjukkan komitmen nyata melalui dorongan hilirisasi yang dimulai dari desa.
Langkah konkret Pemerintah Provinsi Lampung diwujudkan lewat program penyediaan alat pengering (solar dryer) serta penguatan kawasan industri kakao.
Rangkaian sinergi lintas sektoral makin solid berkat peran PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 7.
Selaku tuan rumah, perusahaan perkebunan negara menyediakan Kebun Benih Way Berulu sebagai lokasi strategis penyelenggaraan HKI ke-14.
“Kerja bersama antara Menko Pangan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, hingga PTPN I Regional 7 membuktikan keseriusan seluruh pihak dalam memajukan komoditas kakao.
“Sinergi lintas instansi di Pesawaran menjadi fondasi kokoh bagi kebangkitan kakao nasional,” pungkas Mahendra Utama.






