Kirka – Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia melonjak ke level 54,0 pada Oktober 2026, naik signifikan dibandingkan posisi September di angka 52,4.
Eksponen 98, Mahendra Utama, menyebut capaian tertinggi dalam 31 bulan terakhir sejak Maret 2024 menjadi bukti nyata menguatnya momentum industrialisasi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Laporan S&P Global yang rilis pada 2 November mencatat indeks manufaktur nasional berada jauh di atas ambang batas 50.
“Artinya, aktivitas pabrik dan industri pengolahan di Tanah Air sedang bergerak ekspansif,” kata Mahendra Utama dalam keterangannya, Selasa, 3 November 2026.
Geliat ekspansi manufaktur sepanjang Oktober ditopang oleh lonjakan pesanan baru yang tumbuh paling cepat dalam kurun lima tahun terakhir.
Bahkan, permintaan pasar ekspor berhasil mencetak rekor tertinggi sejak survei pertama kali digelar pada April 2011.
Derasnya arus pesanan dari dalam maupun luar negeri langsung mendongkrak volume produksi, pembelian bahan baku, hingga stok persediaan input di tingkat pabrikan.
Menurut Mahendra, deretan indikator positif pada laporan S&P Global bukan sekadar catatan statistik di atas kertas.
“PMI merupakan leading indicator atau penunjuk arah aktivitas ekonomi riil sebelum data pertumbuhan resmi diterbitkan pemerintah.
“Kenaikan indeks ke level 54,0 memperlihatkan mesin produksi nasional bekerja kencang,” ujar Mahendra.
Kebijakan dan Nonmigas
Kencangnya laju sektor manufaktur, lanjut Mahendra, lahir dari arah kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto yang konsisten memperkuat pondasi industrialisasi, hilirisasi, serta pertumbuhan ekonomi nasional.
Keberhasilan menjaga ritme industri turut ditopang kerja bersama lintas sektor.
“Apresiasi patut diberikan kepada Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, beserta jajaran kementerian.
“Peran pelaku usaha, kaum pekerja, dan asosiasi industri juga sangat menentukan dalam menjaga daya tahan produksi,” tuturnya.
Keseriusan pemerintah mengawal sektor riil tercermin dari penegasan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang menempatkan hilirisasi serta transformasi industri sebagai motor utama pertumbuhan.
Terbukti, sepanjang semester I 2026, industri pengolahan nonmigas mampu tumbuh 5,32 persen sekaligus menyumbang 16,83 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Kendati indikator makro dan survei manufaktur menunjukkan tren menggembirakan, Mahendra mengingatkan pentingnya mengawal angka ekspansi menjadi dampak riil di masyarakat.
Merujuk perspektif New Public Management, ukuran kesuksesan sebuah kebijakan publik terletak pada hasil nyata di lapangan, bukan semata deretan program kerja.
“Skor PMI 54,0 wajib diterjemahkan menjadi realisasi investasi baru, peningkatan produktivitas pabrik, serta pembukaan lapangan kerja berkualitas bagi warga,” tegas Mahendra.
Guna mewujudkan sasaran tadi, pemerintah bersama dunia usaha masih harus menghadapi sejumlah tantangan berat di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Fokus utamanya mencakup upaya mempertahankan daya beli dan permintaan pasar, menjaga stabilitas biaya produksi, serta memperkuat daya saing produk lokal.
“Ekspansi manufaktur menjadi modal berharga bagi perekonomian Indonesia.
“Momentum pertumbuhan industri harus terus dikawal bersama agar benar-benar bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat,” tutup Mahendra.






