PMI 54,0 dan Ekspor Rekor: Saatnya Manufaktur Menjadi Mesin Lapangan Kerja

PMI 54,0 dan Ekspor Rekor: Saatnya Manufaktur Menjadi Mesin Lapangan Kerja
Geliat sektor manufaktur nasional seiring pencapaian PMI 54,0 dan rekor ekspor. Saatnya industri bertransformasi menjadi motor utama pencipta lapangan kerja. Foto: Istimewa/Kirka/Iz

Kirka – Penguatan sektor manufaktur nasional sepanjang Oktober 2026 kian meyakinkan seiring selarasnya berbagai indikator ekonomi makro.

Eksponen 98, Mahendra Utama, menegaskan capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) di level 54,0 beserta rekor kinerja ekspor harus segera dikonversi menjadi mesin pencipta lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat.

“Kinerja positif manufaktur nasional berdiri di atas fondasi data yang sangat kuat.

“Selain PMI S&P Global di angka 54,0, Indeks Kepercayaan Industri atau IKI yang dirilis Kementerian Perindustrian turut melesat ke level 53,77 pada Oktober, naik signifikan dari posisi September sebesar 51,93,” kata Mahendra Utama dalam keterangannya, Selasa, 3 November 2026.

Seluruh indikator utama manufaktur kompak bergerak di zona ekspansi.

Catatan Bank Indonesia turut memperkokoh tren positif lewat raihan PMI-BI triwulan III 2026 sebesar 52,28, meningkat dibandingkan capaian triwulan sebelumnya di level 51,43.

Dari sisi perdagangan internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melaporkan neraca dagang September berhasil membukukan surplus US$3,36 miliar.

Angka surplus ditopang oleh nilai ekspor yang menembus US$27,59 miliar atau tumbuh 11,87 persen secara tahunan (year on year).

Kesejahteraan Pekerja

Merujuk kerangka teori Global Value Chain (GVC), Mahendra menjelaskan bahwa sebuah negara akan memetik manfaat ekonomi jauh lebih besar apabila industri domestiknya sanggup menembus rantai produksi global dengan nilai tambah tinggi.

Rekor pesanan ekspor yang dicetak Indonesia membuka peluang lebar guna memperluas posisi di pasar dunia.

“Kendati demikian, pertumbuhan pesanan ekspor belum otomatis berarti peningkatan kesejahteraan kaum pekerja.

“Laporan S&P Global memang mencatat kenaikan permintaan telah mendorong volume produksi serta pembelian bahan baku, namun kesiapan ekosistem industri di dalam negeri wajib terus diperkuat,” ujar Mahendra.

Guna menangkap peluang pasar ekspor secara optimal, pemerintah perlu memastikan kapasitas produksi industri, peningkatan keterampilan tenaga kerja, hingga kelancaran arus logistik nasional mampu mengimbangi pesatnya perkembangan permintaan pasar.

Lebih lanjut, Mahendra mengapresiasi arahan strategis Presiden Prabowo Subianto mengenai industrialisasi dan hilirisasi sebagai pondasi transformasi ekonomi nasional.

Soliditas kerja bersama antara Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, jajaran kementerian, hingga pelaku dunia usaha menjadi kunci penting dalam menjaga ritme pertumbuhan.

“Tugas bersama berikutnya adalah memperkuat daya saing industri lokal, memperluas akses pembiayaan, meningkatkan penguasaan teknologi, serta mendorong pelaku UMKM agar masuk ke dalam rantai pasok manufaktur nasional,” tuturnya.

Bagi Mahendra, raihan PMI 54,0 merupakan kabar menggembirakan, tetapi bukan garis finis.

Ukuran keberhasilan sesungguhnya baru terlihat tatkala pabrik di dalam negeri semakin produktif, komoditas ekspor kian bernilai tambah, dan serapan lapangan kerja berkualitas terbuka semakin luas.

“Momentum ekspansi manufaktur harus dijaga melalui kebijakan yang konsisten, aliran investasi berkelanjutan, serta keberpihakan nyata terhadap tenaga kerja Indonesia,” tutup Mahendra.