Kembali ke Sari Rawon Leces: Kuliner, Memori, dan Pembangunan Probolinggo

Kembali ke Sari Rawon Leces: Kuliner, Memori, dan Pembangunan Probolinggo
Mahendra Utama di Sari Rawon Leces, Probolinggo. Baginya, rawon pecel bukan sekadar rasa, tapi memori perjalanan dan simbol pembangunan ekonomi daerah. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Pertumbuhan ekonomi wilayah tidak melulu diukur dari deretan gedung bertingkat.

Pemerhati pembangunan, Mahendra Utama, menangkap sinyal positif pergerakan ekonomi Probolinggo melalui perluasan area rumah makan legendaris Sari Rawon Leces.

Kunjungan Mahendra pada Rabu, 2 Oktober 2026 membangkitkan kembali rekam jejak lama.

Selama mengemban amanah sebagai Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh rentang waktu 20 Juli 2023 hingga 15 Desember 2025, ia menjadikan lokasi kuliner letak pesisir utara Jawa Timur sebagai tempat persinggahan rutin saat melintasi jalur darat Jember–Surabaya.

Setelah 10 bulan berlalu, ia kembali menyempatkan diri mampir.

“Sari Rawon Leces adalah jeda bermakna di tengah tingginya mobilitas perantau.

“Meminjam pemikiran Yi-Fu Tuan, place is a pause in movement,” ungkap Mahendra saat menikmati sajian favoritnya, rawon pecel berteman tahu tempe khas Probolinggo plus es teh manis.

Mahendra memaparkan, perpaduan rasa sebuah hidangan tidak berhenti pada batas sensasi lidah melainkan menampung memori perjalanan panjang.

Merujuk teori place attachment gagasan Altman dan Low (1992), ikatan emosional terhadap suatu lokasi lahir dari rutinitas interaksi, pencarian makna, serta pengalaman mendalam setiap pengunjung.

Perkembangan fisik bangunan rumah makan yang tengah mendirikan ruang tambahan baru mendapat perhatian khusus darinya.

Langkah ekspansi usaha membuktikan tingginya tingkat kepercayaan konsumen sekaligus menjadi jaminan keberlanjutan roda bisnis ke depan.

Menurutnya, entitas kuliner rakyat berkedudukan layaknya infrastruktur sosial.

Rantai pasok usahanya menghubungkan banyak pihak mulai dari jaringan pedagang pasar tradisional, kaum petani, sopir angkutan barang, sampai para pelintas antar kota.

Pembangunan riil sejatinya tercermin nyata lewat warung rakyat yang terus berekspansi.

“Menikmati sajian rawon bukan sebatas urusan perut.

“Langkah merawat eksistensi kuliner lokal sama artinya dengan menjaga identitas, memutar roda ekonomi daerah, dan melestarikan ingatan kolektif masyarakat luas,” papar Mahendra.

Bila ekosistem kuliner terus hidup subur, sektor pariwisata daerah akan ikut tertopang kuat.

Hilangnya ruang-ruang interaksi serupa justru berpotensi menggerus wadah pertemuan antarwarga.

Bukti di lapangan menunjukkan konsistensi sajian rasa sanggup mengikat perjalanan waktu meski sebuah amanah jabatan telah tuntas dijalankan.