Penyebab Ekspor RI 2026: Hilirisasi Kuat, Tekanan Global Mengintai

Penyebab Ekspor RI 2026: Hilirisasi Kuat, Tekanan Global Mengintai
Eksponen 98 Mahendra Utama memaparkan peran hilirisasi industri pengolahan dalam menjaga pertumbuhan ekspor Indonesia 2026 di tengah risiko tekanan pasar global. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Lonjakan pengiriman produk olahan nikel, minyak sawit, hingga mesin listrik ke pasar luar negeri berhasil menahan perlambatan ekspor Indonesia sepanjang 2026.

Kuatnya produksi hilirisasi di dalam negeri terbukti sanggup menjaga pertumbuhan ekspor secara kumulatif di tengah menyusutnya permintaan dari Amerika Serikat dan China.

Eksponen 98 Mahendra Utama mengungkapkan, bertahannya kinerja perdagangan nasional tidak lepas dari pergeseran struktur ekspor yang bertumpu pada sektor manufaktur.

Industri pengolahan domestik mampu menjadi penopang utama ketika pasar internasional sedang mengalami penyesuaian tarif dan penurunan daya beli.

“Hilirisasi nikel dan minyak kelapa sawit mentah atau CPO memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

“Penguatan industri pengolahan sejalan dengan teori keunggulan komparatif yang menekankan spesialisasi sumber daya,” kata Mahendra Utama dalam keterangannya, Rabu, 4 November 2026.

Pernyataan Mahendra sejalan dengan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Deputi BPS Ateng Hartono.

Data resmi BPS menunjukkan peningkatan ekspor nonmigas terdongkrak oleh tumbuhnya industri pengolahan sebesar 16,78 persen secara tahunan.

Sejumlah komoditas andalan membukukan kenaikan tinggi dalam laporan statistik.

Ekspor minyak hewani dan nabati melesat hingga 89,04 persen, disusul produk nikel yang naik 32,98 persen, serta mesin listrik sebesar 24,37 persen.

Menurut Mahendra, capaian sektor manufaktur menjadi faktor domestik yang menopang kinerja ekspor 2026 tetap tumbuh secara kumulatif.

Tekanan Eksternal

Di balik kokohnya topangan industri hilir dalam negeri, Mahendra mengingatkan adanya risiko dari sisi permintaan luar negeri.

Gejala pelambatan pasar sebenarnya sudah terlihat sejak turunnya angka ekspor pada November 2025 lalu.

Merujuk paparan Chief Economist BCA David Sumual, penurunan ekspor pada November 2025 terjadi akibat normalisasi permintaan Amerika Serikat pasca aksi pembelian lebih awal (front running) terhadap tarif resiprokal 2025.

Pada waktu bersamaan, perlambatan ekonomi China turut menekan permintaan nikel serta batu bara asal Indonesia.

Mahendra menerangkan, risiko serupa masih membayangi perjalanan perdagangan Indonesia sepanjang 2026.

Surplus neraca dagang selama sembilan bulan pertama 2026 (9M26) tercatat menyusut karena laju ekspor melambat di pasar internasional.

“Ketergantungan pada komoditas membuat penerimaan rentan terhadap volatilitas harga di pasar dunia.

“Teori perdagangan internasional menegaskan bahwa kebijakan tarif dan permintaan mitra dagang merupakan determinan kunci kinerja ekspor,” jelas Mahendra.

Ia menambahkan, meskipun hilirisasi di dalam negeri menjadi kekuatan utama, tekanan global tetap menjadi faktor penentu arah ekspor Indonesia hingga November 2026.