Ekspor Indonesia Hingga November 2026: Naik atau Turun Dibanding 2025?

Ekspor Indonesia Hingga November 2026: Naik atau Turun Dibanding 2025?
Eksponen 98 Mahendra Utama, membedah capaian ekspor Indonesia dan penyusutan surplus neraca perdagangan 2026. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Walau grafik pengiriman barang ke luar negeri terus menanjak menjelang penutupan tahun, menyempitnya surplus neraca perdagangan tetap membutuhkan kewaspadaan tinggi dari para pemangku kebijakan.

Eksponen 98 Mahendra Utama, menguraikan bahwa merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nasional secara kumulatif pada sembilan bulan pertama 2026 mencapai USD221,23 miliar.

Perolehan sepanjang tiga kuartal 2026 melampaui capaian Januari–September 2025 yang tercatat sebesar USD209,55 miliar.

“Pertumbuhan kumulatif hingga September 2026 terutama didorong oleh geliat ekspor nonmigas yang tumbuh 6,30 persen menjadi USD212,27 miliar.

“Sebaliknya, sektor migas mengalami penurunan sebesar 9,11 persen,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Rabu, 4 November 2026.

Menjawab pertanyaan publik mengenai posisi ekspor hingga November 2026, Mahendra menjelaskan bahwa data resmi untuk bulan kesebelas masih menunggu jadwal rilis dari BPS.

Sebagai pembanding terdekat, kinerja ekspor pada November 2025 silam justru mengalami kontraksi 6,60 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi USD22,52 miliar.

“Jika ditarik secara kumulatif sampai September 2026, capaian ekspor Indonesia sudah berada di atas perolehan periode yang sama tahun 2025, sembari kita menunggu rilis resmi untuk angka November 2026,” jelas Mahendra.

Optimisme pelaku usaha turut diperkuat oleh sinyal pemulihan bulanan yang cukup solid pada pengujung kuartal ketiga.

Khusus pada September 2026, nilai ekspor bulanan Indonesia menembus USD27,59 miliar atau melesat 11,87 persen secara tahunan (YoY).

Lonjakan dua digit pada bulan kesembilan memperlihatkan daya tahan komoditas nasional di pasar global.

Kendati demikian, Mahendra mengingatkan adanya catatan penting dibalik naiknya volume penjualan luar negeri.

Surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari–September 2026 ternyata menyusut tajam menjadi USD10,61 miliar, jauh lebih rendah ketimbang surplus periode yang sama pada 2025 sebesar USD33,54 miliar.

“Kenaikan nilai ekspor belum otomatis membuat kita bisa berpuas diri. Menyusutnya surplus neraca perdagangan dari USD33,54 miliar menjadi USD10,61 miliar menandakan adanya pelemahan pada neraca eksternal.

“Artinya, ada tekanan di sektor perdagangan luar negeri yang belum sepenuhnya hilang,” tegas Mahendra.

Lebih lanjut, Mahendra membedah arah pergerakan komoditas nasional menggunakan kerangka model gravitasi perdagangan (gravity model of trade).

Dalam pijakan ekonomi makro, arus perdagangan antarnegara sangat dipengaruhi oleh ukuran kapasitas ekonomi negara mitra serta jarak ekonomi di antara keduanya.

Sepanjang 2026, volume pengiriman komoditas Indonesia ke tiga kekuatan ekonomi utama dunia, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tercatat mengalami peningkatan.

Menurut Mahendra, menguatnya arus barang ke tiga negara mitra dagang utama menunjukkan pergeseran orientasi pasar yang positif bagi struktur ekspor nasional.

“Peningkatan ekspor menuju Tiongkok, Amerika Serikat, dan India memperlihatkan pergeseran orientasi pasar yang positif bila dibaca lewat kerangka model gravitasi perdagangan.

“Secara keseluruhan, arah ekspor hingga September 2026 memang lebih tinggi dari 2025, namun kehati-hatian tetap sangat diperlukan mengingat pelemahan surplus mengindikasikan tekanan ekonomi global yang masih membayangi,” tutup Mahendra Utama.