Energi, Pangan, dan Pasifik: Strategi Besar Prabowo di Bawah Mata Putin

Energi, Pangan, dan Pasifik: Strategi Besar Prabowo di Bawah Mata Putin
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin di Vladivostok, Federasi Rusia, pada Kamis, 3 September 2026. Foto: BPMI Setpres/Kirka/Iz

Kirka – Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia menghasilkan kesepakatan tingkat tinggi yang tak sekadar bertumpu pada ranah diplomatik.

Pertemuan intensif dengan Presiden Vladimir Putin lima kali sejak Prabowo menjabat menjadi tonggak baru hubungan kedua negara, berfokus pada ketahanan energi, pangan, hingga teknologi antariksa.

Eksponen 98, Mahendra Utama, menyebut lawatan Prabowo ke Moskow melampaui batas seremoni belaka.

Indonesia dan Rusia bersepakat memperluas spektrum kerja sama lintas sektor yang menyentuh langsung denyut ekonomi kedua bangsa.

“Di bidang energi, Indonesia menyambut keterlibatan Rusia untuk meningkatkan produktivitas eksplorasi, produksi, dan pengolahan minyak serta gas,” ujar Mahendra mengutip pernyataan Prabowo, Sabtu, 5 September 2026.

Langkah konkret langsung berjalan. Pemerintah mengundang perusahaan negeri beruang merah untuk menggarap 138 blok eksplorasi energi.

Bahkan, pada sektor hilir, raksasa aluminium Rusia, Rusal, dijadwalkan membangun fasilitas pemurnian berskala besar bersama mitra domestik.

Selain energi fosil, Indonesia turut melirik teknologi nuklir.

“Kita membutuhkan pengetahuan dan investasi di bidang energi terbarukan, jaringan listrik pintar, serta energi nuklir untuk tujuan damai,” urai Mahendra menirukan penegasan Prabowo.

Rusia merespons tawaran itu secara cepat lewat komitmen mengirimkan tenaga ahli guna mendukung pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di tanah air.

Sinergi Pangan di Tengah Krisis Global

Sektor pangan tak luput dari pembahasan serius. Kolaborasi kedua negara menyasar teknologi pertanian, benih unggul, pembiakan ternak, mekanisasi, hingga produksi pupuk bersama.

Mahendra menjelaskan, sinergi pangan sejalan dengan teori food security.

Rusia, lewat pasokan gandum dan energinya, melengkapi posisi Indonesia yang unggul melalui kelapa sawit serta pasar domestik yang luas.

“Kekuatan satu pihak dapat menjawab kebutuhan pihak lainnya. Fondasi perdagangan adil dan berkelanjutan harus terbangun kokoh,” ungkap Mahendra, mengamini prinsip gagasan Prabowo di hadapan Putin.

Membangun Jembatan Pasifik

Kemitraan yang terjalin kian komprehensif, merambah ranah antariksa, pendidikan tinggi, dan konektivitas.

Pertukaran akademik antar universitas dan lembaga riset terus dipacu.

Guna memperlancar arus barang serta manusia, Prabowo mendorong pembukaan rute penerbangan sekaligus pelayaran langsung.

Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan pandangan filosofis terkait posisi geografis.

“Samudra Pasifik tidak memisahkan kita. Samudra Pasifik menghubungkan kita. Ia bukanlah tembok. Samudra Pasifik harus menjadi jalan raya antara dua perekonomian kita,” tegas Prabowo.

Pesan persahabatan dari Prabowo langsung diamini Putin. Pemimpin Rusia itu secara terbuka mengakui Indonesia sebagai mitra utama di kawasan Asia Pasifik.

Hubungan historis kedua negara kini bergerak progresif dari sekadar rekan dagang menjadi poros kerja sama multidimensi.