Kirka – Menjelang dua tahun masa kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela, Provinsi Lampung mencatatkan laju pertumbuhan ekonomi positif.
Badan Pusat Statistik merilis angka pertumbuhan menembus 5,29 persen secara year on year pada triwulan kedua 2026.
Pencapaian persentase membawa Sang Bumi Ruwa Jurai bertengger di posisi tertinggi kedua tingkat Sumatra.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memaparkan sektor pertanian menjadi motor penggerak utama lewat kontribusi pertumbuhan nyaris 6 persen.
Tingkat kemiskinan juga mengalami penurunan dari 10,00 persen pada Maret 2025 menjadi 9,31 persen per Maret 2026.
Fakta lapangan membuat sekitar 55 ribu jiwa berhasil terentaskan dari jurang kemiskinan.
“Indeks Pembangunan Manusia tembus angka 73,98 pada 2025, naik 0,85 poin dari tahun sebelumnya.
“Nilai Tukar Petani bulan Juli 2026 juga tercatat 132,64 atau naik 2,11 persen. Posisi tawar petani perlahan membaik,” ungkap Mahendra di Bandarlampung, Rabu, 2 September 2026.
Meski tren pergerakan grafik terus mendaki, Mahendra memberikan catatan tebal terkait pekerjaan rumah berskala besar.
Persoalan sempitnya lapangan pekerjaan formal menjadi tantangan paling nyata.
Data statistik menunjukkan pekerja sektor formal baru menyentuh 30,83 persen.
Sisanya didominasi pekerja paruh waktu sebesar 33,28 persen dan kelompok setengah penganggur sebanyak 9,55 persen.
Struktur ekonomi daerah juga masih sangat bergantung pada ekspor komoditas mentah.
Produk unggulan layaknya kopi, nanas, hingga tebu sama sekali belum tersentuh program hilirisasi secara maksimal.
“Pertumbuhan substansial membutuhkan investasi masif dan serentak pada sektor-sektor strategis, merujuk teori Big Push dari Paul Rosenstein Rodan.
“Kita baru berada di jalur pertumbuhan kuantitatif, belum masuk fase transformasi struktural,” papar Mahendra.
Tantangan ketiga bersumber dari tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk.
Rasio Gini pada Maret 2026 terpaku di angka 0,290.
Catatan ketimpangan memang sedikit melandai dari 0,292 pada Maret 2025, namun kembali merangkak naik jika membandingkan posisi September 2025 di level 0,287.
Mahendra mempertanyakan apakah setiap tambahan satu persen pergerakan ekonomi benar-benar mampu melahirkan perluasan lapangan kerja formal, mendongkrak pendapatan masyarakat, sekaligus menciptakan nilai tambah komoditas lokal.
“Perekonomian maju secara angka kuantitatif, namun belum matang secara struktural.
“Agar bisa melakukan lompatan lebih jauh, Gubernur perlu mempercepat reformasi birokrasi ranah ekonomi. Langkah awalnya harus dimulai dari perombakan tim ekonomi inti,” tegas Mahendra.






