Kirka – PT Pertamina Gas memboyong empat trofi bergengsi dalam ajang Indonesia QHSE for Business Sustainability Awards 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Jumat, 28 Agustus 2026 lalu.
Prestasi korporasi pelat merah subholding gas itu dinilai sebagai buah manis dari konsistensi panjang membangun iklim keselamatan kerja di seluruh lini distribusi migas.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, berpandangan bahwa torehan Pertagas bukan sekadar seremoni penerimaan piagam di atas panggung.
Lebih dari itu, pencapaian tersebut memperlihatkan bagaimana standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) telah mendarah daging dalam operasional harian para pekerjanya.
“Capaian lebih dari 123 juta jam kerja selamat tanpa kecelakaan fatal hingga Juli 2026 adalah fakta konkret di lapangan.
“Angka setinggi itu mustahil lahir dari kebetulan, melainkan hasil kedisiplinan berulang yang dijaga dari jajaran pimpinan tertinggi hingga petugas lapangan,” ujar Mahendra Utama, Kamis, 3 September 2026.
Menurut Mahendra, komitmen pemimpin korporasi memegang kendali paling besar dalam menanamkan kesadaran bahaya kerja.
Ketika pucuk pimpinan menempatkan perlindungan pekerja sebagai pondasi utama di atas target produksi, seluruh sistem kerja otomatis mengikuti arah yang sama.
“Pemberian apresiasi kepada Direktur Utama dan pimpinan HSSE Pertagas menegaskan bahwa kepemimpinan keselamatan berjalan efektif.
“Tanpa ketegasan manajemen di level atas, regulasi keselamatan kerja hanya akan berakhir sebagai dokumen pajangan,” imbuh Mahendra.
Dalam gelaran yang mengusung tema Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional Menuju Keberlanjutan Ekonomi, Pertagas mengamankan empat kategori sekaligus.
Yakni, The Best Safety Culture and Sustainability 2026, The Best QHSE Digital Innovation 2026, The Best CEO for Corporate QHSE Excellence 2026 yang diterima Direktur Utama Indra P. Sembiring, serta The Best QHSE Leadership 2026* bagi VP HSSE Rotua Elyzabeth.
Direktur Keuangan dan Dukungan Bisnis Pertagas, Arifin Ahmad, menyampaikan bahwa keberhasilan membawa pulang empat penghargaan berakar dari kesadaran bersama seluruh Perwira Pertagas.
“Lingkungan kerja yang aman dan sehat akan berdampak langsung pada produktivitas pekerja, sekaligus menjadi bagian dari strategi manajemen risiko jangka panjang bagi keberlangsungan operasional perusahaan,” kata Arifin.
Senada dengan Arifin, VP HSSE Pertagas Rotua Elyzabeth menegaskan pentingnya menjaga kesadaran keselamatan agar tidak berhenti pada pencapaian administratif belaka.
“Keselamatan dalam bekerja bukan sekadar himbauan atau capaian teknis yang bersifat sementara.
“Keselamatan harus menjadi budaya dan kebiasaan yang terus terjaga lintas generasi pekerja,” tutur Rotua.
Langkah Pertagas memperkuat pengawasan operasional lewat adopsi sistem digital modern turut menuai apresiasi.
Pemanfaatan perangkat kecerdasan buatan, sensor IoT, serta pemantauan otomatis dinilai berhasil memangkas potensi kelalaian manusia dalam distribusi energi nasional.
Ketua Dewan Juri IQSA 2026, Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, memaparkan bahwa integrasi teknologi memang menjadi kunci efektivitas K3 era modern.
“Artificial Intelligence, Internet of Things, robotika, otomatisasi, big data, hingga teknologi wearable kini mulai menjadi bagian dari aktivitas pekerjaan.
“Dalam konteks K3, perubahan membuka peluang sangat besar untuk mencegah risiko sedini mungkin,” pungkas Guru Besar Ilmu K3 Universitas Indonesia tersebut.






