Kirka – Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan cermin utama daya saing ekonomi daerah.
Sepanjang 2025, angka PDRB Provinsi Lampung sukses menembus nominal di atas Rp480 triliun.
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama memaparkan, pencapaian ekonomi terwujud lewat keunggulan sektor agribisnis dan agroindustri.
Posisi skala perekonomian sekarang menempatkan Sang Bumi Ruwa Jurai masuk ke jajaran menengah atas untuk kawasan luar Pulau Jawa.
Menurut Mahendra, keberhasilan pergerakan ekonomi suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh akselerasi akumulasi modal beserta penguatan komoditas unggulan.
Pola pembangunan selaras dengan rumusan teoretis ekonom Ragnar Nurkse.
Terdapat tiga provinsi pembanding yang berada pada skala setara dengan daya saing Lampung.
Pertama adalah Sumatera Barat (Sumbar). Wilayah pesisir barat Pulau Sumatera memegang struktur ekonomi paralel.
Membawa nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) pada kisaran Rp320 triliun hingga Rp360 triliun, Sumbar mengandalkan pertanian, perkebunan, dan perdagangan sebagai tulang punggung pendapatan daerah.
“Kesamaan struktur mengonfirmasi teori keunggulan komparatif dari David Ricardo, tempat kedua provinsi mengoptimalkan basis sumber daya alam agraris untuk memacu nilai tambah,” kata Mahendra, Sabtu, 5 September 2026.
Provinsi kedua adalah Kalimantan Selatan (Kalsel).
Jika Lampung bertumpu pada panen kopi, tebu, dan singkong, Kalsel menggantungkan laju perekonomian pada komoditas batu bara serta kelapa sawit.
Nilai PDRB Kalsel menyentuh kisaran Rp290 triliun sampai Rp340 triliun.
Kedua daerah menggambarkan dinamika ekonomi berbasis sumber daya alam (resource based economy) yang menjadi pondasi penting bagi ketahanan fiskal wilayah regional.
Ketiga, Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan pencatatan PDRB berkisar Rp600 triliun hingga Rp650 triliun.
Secara nominal berada sedikit lebih tinggi, namun Sulsel merupakan representasi paling sepadan sebagai pusat pertumbuhan wilayah timur Indonesia.
Peran senada dijalankan Lampung sebagai gerbang utama Pulau Sumatera.
“Kunci pemerataan nasional terletak pada penguatan agregat PDRB provinsi penyangga agar tidak tercipta ketimpangan ekstrem antar-wilayah,” tegas Mahendra.
Pemetaan kesetaraan skala PDRB membuktikan daerah luar Jawa menyimpan potensi agregat sangat masif.
Akselerasi hilirisasi beserta kelancaran konektivitas logistik akan menjadi penentu utama langkah lompatan daerah menuju tingkatan ekonomi berikutnya.






