Kirka – Peluang 30 medali dari arena drum band dan barongsai menuntut Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Lampung mengambil langkah.
Menatap babak kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028, otoritas olahraga daerah langsung memanggil pengurus dua cabang olahraga di atas, beserta gulat, guna memastikan kesiapan sistem penjaringan atlet.
Pemanggilan lebih awal bukan tanpa alasan. Wakil Ketua II KONI Lampung, Riagus Ria, menyebut ada hitungan logis di balik strategi percepatan persiapan.
Nomor pertandingan drum band memperebutkan alokasi sekitar 20 medali, sementara barongsai menawarkan 10 keping medali.
Di luar besarnya peluang podium, kedua induk organisasi dinilai berstatus mandiri secara finansial maupun ketersediaan fasilitas perlengkapan tanding.
“Fokus utama kita mendorong pengurus cabang agar mengoptimalkan proses seleksi atlet dan menyusun program latihan jangka panjang.
“Kita tidak ingin nomor dengan potensi besar justru gagal lolos di PON 2028,” ujar Riagus, Selasa, 28 Juli 2026.
Mengejar target besar yang dipatok KONI, pembenahan ruang lingkup seleksi langsung dieksekusi.
Khusus barongsai, pencarian bakat baru mulai diekspansi guna memperlebar peluang juara.
Sebuah kejuaraan lokal segera digulirkan dengan melibatkan sedikitnya lima klub asal Kota Metro dan Bandarlampung.
Pemetaan kemampuan atlet sedari dini dinilai mutlak demi membidik nomor-nomor spesifik penyumbang medali.
Kesibukan serupa rupanya sudah lebih dulu merembet ke area matras gulat.
Laporan terbaru menyebutkan Pengurus Provinsi (Pengprov) Gulat kini memusatkan pembinaan intensif kepada enam atlet andalan.
Seluruh sasana di tingkat kabupaten dan kota mendapat instruksi tegas untuk menggembleng fisik maupun teknik para pegulat demi mengamankan tiket kelolosan menuju putaran final PON mendatang.






