Kirka – Identitas Lampung sebagai lumbung pangan perlahan bergeser.
Beroperasinya Bioethanol Development Center di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, membuka jalan bagi wilayah ujung selatan Sumatera untuk merajai sektor energi biomassa nasional.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membedah langkah Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Ia sepakat bahwa mengubah haluan pertanian ke arah industri energi adalah bentuk konkrit hilirisasi demi melipatgandakan pendapatan daerah.
“Pendirian fasilitas pengolahan mempraktikkan langsung Value Added Theory dan Comparative Advantage Theory.
“Kita tidak lagi membiarkan bahan mentah hasil panen dijual murah, melainkan wajib diolah agar bernilai tinggi,” urai Mahendra, Selasa, 15 September 2026.
Sektor pertanian secara konsisten menyumbang 27 persen struktur ekonomi Lampung.
Dua komoditas penyedia bahan baku bioetanol bahkan merajai pasokan nasional.
Ubi kayu bertengger di angka 7,5 juta ton atau peringkat pertama, disusul tebu sebesar 724 ribu ton di urutan kedua.
Limpahan bahan mentah memberi modal kuat bagi berdirinya industri energi alternatif.
Realitas ketersediaan sumber daya alam lantas dibidik pemerintah provinsi.
Saat meresmikan pabrik di Pesawaran, Gubernur Mirza blak-blakan menyoal masa depan agrikultur daerahnya.
“Pertanian bukan lagi hanya menghasilkan pangan, tetapi juga energi.
“Bukan hanya menjual hasil panen, tetapi juga menciptakan industri,” tegas Gubernur Mirza.
Meski memiliki potensi besar, Mahendra mengingatkan eksekusi pengolahan bioetanol mustahil berjalan secara tunggal.
Pemerintah, pengusaha, kampus, dan petani wajib terhubung ke dalam satu rantai pasok.
Sentra di Pesawaran bakal menguji seberapa kuat kolaborasi riset, teknologi, serta mesin industri bisa berjalan beriringan.
Di tingkat akar rumput, beroperasinya pabrik bioetanol otomatis memberi kepastian pasar bagi para peladang.
Mesin pabrik butuh pasokan bahan baku secara terus-menerus, sehingga meminimalkan risiko anjloknya harga jual saat panen raya tiba.
Langkah daerah berpadu pas dengan target energi dari pusat.
Pemerintah pusat tengah mengejar pemanfaatan bioetanol dari E5 menuju E10, hingga batas maksimal E20.
“Lampung kini siap memasok kedaulatan energi negara, tanpa mengorbankan piring nasi rakyatnya,” tutur Mahendra Utama.






