Agung: Terus berapa jumlah yang bapak terima?
Mahfud: Saya nggak tahu persis pak, karena yang nyerahkan pak Anton Wibowo, yang terima pak Hanan.
Agung: Di BAP saudara, saudara bilang Rp200 juta tunai!
Mahfud: Saya nggak tahu persis pak, saya nggak ngitung dan saya nggak buka. Tapi ngantarnya nemuin pak Karomani di pagi-pagi itu.
Agung: Oh begitu. Jadi saudara sudah pulang dari Surabaya? Saudara menerima uang dari pak Anton?
Mahfud: Heee ehh.. Heee ehh..
Agung: Kemudian bersama-sama ke rumah pak Karomani?
Mahfud: Setelah diterima pak Hanan, pagi-pagi, ‘pak Hanan coba itu dibawa ya, saya antar ke pak rektor’. Gitu. Ketemu lah pak rektor di rumahnya.
Agung: Di BAP saudara, saudara bilang ‘saya dan Hanan mengantar ke rumah baru pak Karomani’.
Mahfud: Iyaaa. Langsung …. (ucapan Mahfud belepotan)
Agung: Bapak dengarkan saya dulu. Berarti bapak sama pak Hanan yang ke rumah pak Karomani?
Mahfud: Iya, iya.
Agung: Sampai di rumah Karomani, rumah terdakwa ini, uang itu langsung diserahkan atau bagaimana?
Mahfud: Saya temui pak Karomani dulu. Pak Karomani buru-buru mau ada acara di Polda. ‘Pak ini ada orang tua titipan, mau nyampaikan infak’. Saya sampaikan begitu.
‘Waduh saya mau buru-buru loh pak Ustad! Ya udah, anuuu, titip kepada driver atau ajudan yang di depan itu’. Gitu beliau..
Agung: Ohh gitu yaaa. Masih ingat nggak namanya siapa?
Mahfud: Nggak tahu namanya. Pakaiannya waktu itu safari.
Agung: Ohh.. Ajudan atau sopir?
Mahfud: Ada dua orang, tapi saya nggak tahu persis. Tak kasih kan. Karena buru-buru, terus saya ‘ini gimana ya, nanti urusan ini ke pak Karomani’.
Soalnya saja mau diajak ke bangunan, cuma nggak sempat waktunya.
Agung: Okey, berarti sudah ya, sudah diserahkan.
Mahfud: Sudah. Sampai di situ aja.
Percakapan selanjutnya dapat dibaca di sini: Mahfud Santoso dan 7 Calon Mahasiswa Unila Titipannya yang Dibongkar Jaksa KPK






