Mahfud: Tahunya lulus atau tidak itu, setelah pengumuman pak Antonnya malah ngebel saya.
Agung: Terus?
Mahfud: ‘Wak, Alhamdulilah anak saya lolos’. Gitu si Pak Antonnya.
Agung: Okey setelah pengumuman. Teruss?
Mahfud: Nah setelah itu, disampaikan pak Karomani, pak rektor. ‘Pak Ustad, bagi yang lulus, sampaikan aja. Jika adaaaa, apa itu eeee, niat untuk membantu Nahdliyin Center, ya memberikan infak seikhlasnya’. Tak sampaikan ke beliau [Anton Wibowo] gitu.
Agung: Oh gitu ya. Itu bapak sampaikan ke Pak Anton? Itu kata-kata yang sama bapak dengar dari Pak Karomani waktu nelpon? Begitu?
Mahfud: Iya, waktu nelpon.
Agung: Oh berarti, waktu nelpon sebelum ujian, pak Karomani meminta nomor anak itu, dan juga menyampaikan ‘Kalau lulus minta sumbangan’. Kurang lebih begitu?
Mahfud: Iyaaa, seikhlasnya.
Agung: Oh gitu. Teruss?
Baca juga: Jaksa KPK Siapkan Pilihan Jemput Paksa Politisi Partai Demokrat Lampung Hengky Malonda
Mahfud: Untuk infak mendirikan Nahdliyin Center.
Agung: Okeh.. Terus apa sikap dari Pak Anton?
Mahfud: ‘Iyaa, saya sebagai rasa syukur, nggak apa-apa, Pak Haji’. Dia bilang begitu. Untuk rasa syukur, gitu.
Agung: Ohh gitu.. Haaa, terusss?
Mahfud: Terus setelah itu, 3 minggu lah setelah pengumuman, hampir 1 bulan… Pas saya sholat adzan nelpon, ”Pak saya akan nyumbang kantor Nahdliyin Center’. ‘Oh saya masih di Surabaya’, aku bilang gitu.
Coba titipkan kepada, eeee staf saya yang di Rumah Sakit Urip, terus….
Agung: Siapa namanya pak?
Mahfud: Gimana?
Agung: Siapa nama stafnya? Kan dititipkan di stafnya, kemudian pak Anton menitipkan uang ke stafnya.
Mahfud: Pak Hanan namanya.
Agung: Oh pak Hanan… terus?






