Asril: Tugiyono?
Budi: Tugiyono Rp250 juta.
Asril: Herman HN melalui Yayan?
Budi: Eee, Rp250 juta.
Asril: Itu berapa kali diterimanya?
Budi: Sekali pak.
Asril: Ruskandi?
Budi: Ruskandi, Rp250 juta.
Asril: Kalau Nyoman?
Budi: Nyoman Rp250 juta.
Baca juga: Mantan Rektor Unila Karomani: KPK Tolong Usut Kebohongan Budi Sutomo
Asril: Saksi ingat nggak, nama-nama mahasiswa titipannya?
Budi: Nggak… Nggak tahu saya pak!
Asril: Pada saat penerimaan uang-uang ini, dari pada orang tua ini, bagaimana saudara saksi memintanya?
Budi: Waktu itu Pak Karomani menyuruh saya menghubungi nama-nama yang ada, untuk ngambil.
Untuk menghubungi nama-nama tersebut, kemudian mengambil.
Asril: Kenapa saudara disuruh untuk mengambil uang dari para orang tua ini? Ada apa Pak Karomani dengan para orang tua ini?
Baca juga: Profil Kepala Biro Perencanaan dan Hubungan Masyarakat Unila Budi Sutomo
Budi: Eeee, setahu saya karena Pak Karomani tadi, infak untuk pembangunan LNC itu. Menyuruh saya untuk mengambil infak.
Asril: Ada kaitannya dengan penerimaan mahasiswa baru?
Budi: Eeeee, ada pak!
Asril: Ada? Apa hubungannya?
Budi: Waktu itu pak Karomani ngomong. Jadi…eeee.






