DesaKu Maju: Hilirisasi Perdesaan Lampung Dukung MBG dan KDMP

DesaKu Maju: Hilirisasi Perdesaan Lampung Dukung MBG dan KDMP
Pelatihan Operator Mesin Pengering (Bed Dryer) oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung, Minggu 5 April 2026. Foto Dok Disperindag/Arbi Ilham

 

Kirka – Pemerintah Provinsi Lampung tancap gas mengubah wajah ekonomi pedesaan pada tahun 2026.

Melalui program andalan DesaKu Maju, pemprov membidik target besar, menjaring potensi kampung agar mampu menyokong dua agenda strategis nasional, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kawasan Desa Mandiri Pangan (KDMP).

Pemerhati Pembangunan Provinsi Lampung, Mahendra Utama, menilai langkah Gubernur Rahmat Mirzani Djausal tersebut sebagai terobosan berani yang membalikkan keadaan.

Menurutnya, pembangunan kawasan pinggiran kini tidak lagi melulu bicara soal mengecor jalan atau membangun jembatan.

“Tahun lalu, pemerintah daerah sukses menyalurkan 500 titik Pupuk Organik Cair (POC) dan 34 unit mesin pengering hasil panen (bed dryer), disusul pelatihan keahlian bagi pengurus BUMDes.

“Memasuki 2026, target kerjanya melompat jauh lebih tajam,” ungkap Mahendra, Rabu, 8 April 2026.

Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan tersebut merinci, rencana tahun berjalan mencakup penyediaan 2.000 titik POC dan 100 bed dryer.

Bahkan, eksekutif tengah menyiapkan 30 kawasan percontohan hilirisasi yang tersebar di 15 kabupaten dan kota.

“Setiap kabupaten akan diwakili dua wilayah percontohan. Fokus utamanya memoles komoditas andalan seperti padi, jagung, dan singkong.

“Sisa panen yang biasanya dibakar atau dibuang, akan disulap menjadi pakan ternak bernutrisi untuk ikan, ayam, kambing, maupun sapi,” tuturnya.

Gagasan tersebut, lanjut tokoh Eksponen 98 tersebut, bukan sekadar teori di atas kertas.

Mengubah desa dari sekadar wilayah konsumen menjadi basis produsen mandiri merupakan penerapan ekonomi sirkular yang terbukti ampuh mengurai kemiskinan warga pelosok.

Mengutip laporan Bank Dunia tahun 2021, pengolahan sisa agroindustri mampu mendongkrak keuntungan ekonomi hingga 40 persen sekaligus menekan polusi udara.

“Hal tersebut sejalan dengan pandangan pakar pembangunan Prof. Didi Tarmidi, yang menegaskan bahwa kampung yang mampu mengelola limbahnya sendiri adalah kawasan yang merdeka secara finansial.

Artinya, kekuatan lokal digerakkan penuh sehingga masyarakat tidak lagi terus-menerus bergantung pada pasokan luar,” tambah Mahendra.

Dampak langsung dari kemandirian tersebut akan terasa pada sektor ketahanan pangan.

Ketersediaan makanan ternak murah buatan lokal secara otomatis mengamankan pasokan protein hewani di akar rumput.

Rantai produksi tersebutlah yang nantinya sangat diandalkan untuk menyuplai kebutuhan bahan pokok program gizi gratis dari pemerintah pusat, sebuah celah rantai pasok yang selama jarang tersentuh kebijakan reguler.

Tentu saja, realisasi ambisi besar tersebut menuntut kerja kolaboratif berbagai elemen.

Mahendra secara khusus mengapresiasi komitmen jajaran pemprov dan dukungan legislatif (DPRD) dalam mengamankan pos anggaran.

Begitu pula dedikasi para camat, kepala desa, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani yang mau beradaptasi dengan inovasi baru.

“Sekarang mesin pengering gabah sudah menyelamatkan panen petani saat musim hujan, pupuk cair mulai memulihkan kesuburan tanah tanpa candu bahan kimia, dan jerami berubah wujud menjadi barang bernilai jual.

“Lampung kini lebih banyak bicara bukti kerja nyata. Ketika masyarakat desa berdaya, otomatis kemajuan berskala nasional akan terwujud,” pungkasnya.