Kirka – Lonjakan harga minyak goreng yang memicu inflasi bulanan sebesar 0,53 persen pada April 2026 langsung ditindaklanjuti secara cepat oleh Pemerintah Provinsi Lampung.
Lewat kerja sama dengan Perum Bulog, ratusan ribu liter Minyakita disalurkan serentak ke 15 kabupaten dan kota mulai pertengahan Mei demi menstabilkan harga kebutuhan pokok di pasaran.
Pemerhati Pembangunan sekaligus anggota Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, memandang intervensi pasar mutlak diperlukan saat ini.
Rilis angka dari Badan Pusat Statistik (BPS) dinilai memberi sinyal merah bagi daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah.
“Operasi pasar bertindak layaknya peredam kejut ketika rantai distribusi terganggu.
“Kalau negara absen saat harga bahan pokok bergejolak, pendapatan riil rumah tangga akan langsung tergerus.
“Upaya stabilisasi harus nyata dan langsung menyentuh masyarakat, bukan sebatas rapat birokrasi di atas kertas,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Senin, 11 Mei 2026.
Kelangkaan dan melambungnya harga minyak goreng subsidi belakangan bukan tanpa sebab.
Mahendra membeberkan, sebagian besar alokasi Minyakita pada periode Februari hingga April lebih banyak terserap untuk program bantuan sosial.
Akibatnya, pasokan reguler bagi pedagang eceran menyusut tajam dan memicu kelangkaan di tingkat konsumen umum.
Guna menambal lubang pasokan harian, operasi pasar mulai berjalan pada Selasa, 12 Mei 2026, hingga akhir bulan di setiap hari kerja.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung, M. Zimmi Skil, memastikan harga jual dikunci pada angka Rp15.500 per liter.
Angka yang dipatok jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran yang sempat membebani kantong konsumen.
Agar distribusi merata sekaligus menutup ruang gerak para spekulan, aturan pembelian diperketat. Setiap warga hanya diperbolehkan menebus maksimal dua liter minyak goreng.
“Pembatasan kuota wajib diberlakukan supaya semua masyarakat yang antre kebagian jatah dan tidak ada pihak yang menimbun barang,” kata Zimmi.
Distribusi pangan murah dirancang menjangkau titik-titik vital pusat denyut ekonomi warga.
Di ibu kota provinsi, penyaluran menyasar Pasar Panjang, Kangkung, Tugu, Way Halim, hingga Pasir Gintung.
Sementara di luar wilayah Bandarlampung, truk-truk pengangkut logistik menyentuh Pasar Simpang Pematang di Kabupaten Mesuji hingga Pasar Kopindo di Kota Metro.
Kelancaran rantai pasok dari gudang penyimpanan hingga ke tangan pembeli dijamin sepenuhnya oleh pihak Bulog.
Pemimpin Wilayah Bulog Lampung, Rindho Safutra, yang mewakili Direktur Utama Ahmad Rizal Ramdani, menyatakan pihaknya memacu proses bongkar muat agar penyaluran ke seluruh titik berjalan sesuai regulasi Kementerian Perdagangan.
Menutup pandangannya, Mahendra Utama menekankan bahwa ketersediaan barang dengan harga terjangkau di pasar tradisional menjadi bukti konkret kerja pemerintah daerah.
Meski bersifat penanganan jangka pendek, langkah serentak dari seluruh dinas perdagangan bersama instansi vertikal menjadi tolok ukur pengelolaan pangan daerah yang baik.
“Piring makan keluarga tetap terjamin isinya, tanpa membuat para ibu rumah tangga khawatir akan lonjakan harga bahan pokok,” pungkas Mahendra.






