Kirka – Ancaman gagal panen kembali membayangi sentra komoditas lada di Provinsi Lampung akibat wabah Busuk Pangkal Batang (BPB) dan layu bakteri.
Serangan patogen mematikan tersebut memicu fenomena “produksi sekali mati”, yang membuat tanaman hancur total tanpa bisa dipanen kembali.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Provinsi Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, menjelaskan bahwa kerugian masif dialami petani karena kerusakan parah pada sistem perakaran.
“Gejalanya sangat khas di lapangan. Daun tiba-tiba menguning, tanaman layu mendadak, kemudian pangkal batang menghitam dan membusuk hingga akarnya mati.
“Sekali terserang, hanya soal waktu sampai tanaman mati total,” urai Mahendra di Bandarlampung, Rabu, 3 Juni 2026.
Aktor utama pembawa petaka bagi komoditas andalan daerah tersebut adalah jamur Phytophthora capsici dan bakteri Ralstonia solanacearum.
Menurut Mahendra, ledakan penyakit dapat dibedah secara ilmiah melalui Teori Segitiga Penyakit rumusan Russell (1978).
Wabah terjadi akibat interaksi tiga faktor krusial, yaknk, penggunaan varietas lada lokal yang rentan, agresivitas patogen virulen, serta kondisi lingkungan bersuhu lembab dengan sistem drainase buruk.
Guna memperkuat analisisnya, Mahendra mengutip pakar patologi tanaman Agrios (2005).
“Penyakit tanaman timbul dan berkembang parah ketika inang, patogen, dan lingkungan berada dalam keseimbangan yang menguntungkan patogen,” tegasnya.
Titik Kritis dan Pola Penyebaran
Wabah layu akar terpantau telah menyebar luas di sejumlah wilayah endemik, meliputi Kabupaten Lampung Utara, Waykanan, Tanggamus, hingga Lampung Timur.
Titik kritis serangan selalu memuncak sepanjang musim hujan, tepatnya pada periode November hingga April, saat kondisi tanah jenuh air.
Data Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) mencatat tingkat kejadian BPB melonjak tajam di angka 30 hingga 60 persen, terutama pada areal perkebunan tanpa pengelolaan tata air yang standar.
Laju penularan patogen tular tanah (soil borne) berlangsung sangat cepat melalui percikan air hujan, sisa tanah pada alat pertanian, sampai penggunaan bibit terinfeksi.
Zoospora Phytophthora mampu bergerak leluasa di dalam air tanah untuk memburu dan menyerang akar-akar halus.
Daya tahan patogen menjadi tantangan terberat bagi para petani.
Peneliti Balittro, Dr. Ir. Dono Wahyuno, memaparkan betapa agresifnya jamur penyebab layu akar tersebut di lapangan.
“Patogen mampu bertahan bertahun-tahun di dalam tanah meskipun tanpa tanaman inang,” ungkap Dono.
Setelah berhasil menginfeksi akar bawah, jamur merambat naik ke pangkal batang dan menyumbat pembuluh xilem.
Putusnya aliran nutrisi maupun air secara permanen mematikan lada seutuhnya.
Bagi Mahendra, penanganan serius pada level hulu wajib segera dirumuskan.
Tanpa adanya mitigasi dan perbaikan tata kelola kebun, ancaman penyakit mematikan akan terus menghambat agenda besar hilirisasi komoditas pertanian yang tengah digenjot oleh Pemerintah Provinsi Lampung demi kesejahteraan petani lokal.






