Kirka – Dari Harlah ke-28, Ekonomi Rakyat Menjadi Nyata, adalah puisi karya Mahendra Utama.
Secara garis besar merangkum semangat dan komitmen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada perayaan Hari Lahir (Harlah) ke-28 di Jakarta Convention Center (JCC).
Bait-bait awal puisi menyoroti dukungan penuh para kader PKB terhadap visi ekonomi Presiden Prabowo Subianto, yang diistilahkan sebagai “Prabowonomics”.
Namun, puisi menegaskan bahwa visi tersebut pada hakikatnya adalah peneguhan kembali Ekonomi Pancasila dan amanat konstitusi.
Mahendra menjabarkan bahwa kemerdekaan sejati bagi rakyat bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik, melainkan kemandirian ekonomi yakni kemampuan bangsa untuk mengelola kekayaan alamnya sendiri dan lepas dari ketergantungan pihak asing demi kesejahteraan rakyat jelata.
Lebih lanjut, puisi juga memotret sikap rendah hati sang Presiden yang menolak mengklaim konsep ekonomi tersebut sebagai milik atau peninggalan pribadinya.
Beliau mengingatkan bahwa keberpihakan pada rakyat dan keadilan sosial murni merupakan warisan luhur para pendiri bangsa yang termaktub dalam Pasal 33 dan 34 UUD 1945.
Melalui karya ini, PKB diposisikan sebagai garda terdepan yang berjanji untuk terus mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah yang menjemput kesejahteraan.
Harlah ke-28 jugai tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga dijadikan momentum dan pijakan baru bagi partai untuk memperkokoh dukungan terhadap pemerintah demi satu tujuan utama: bangkitnya ekonomi rakyat dan terwujudnya Indonesia yang adil dan makmur.
Dari Harlah ke-28, Ekonomi Rakyat Menjadi Nyata
Karya: Mahendra Utama
Meneguhkan Kembali Ekonomi Pancasila Pada Kepemimpinan Prabowo
Di tengah sorak dan haru yang melingkupi JCC,
Kader PKB hadir dengan satu misi,
Mengusung tema “Arah Baru Amanat Ekonomi Konstitusi”,
Menyatukan tekad di bawah naungan Prabowonomics,
Sebagai pengingat bahwa kekayaan adalah milik rakyat jelata.
Mereka adalah para penerus yang paham,
Bahwa kemerdekaan hakiki adalah hidup layak,
Bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik,
Melainkan merdeka dari ketergantungan asing,
Dengan mengelola sendiri bumi dan isinya.
Presiden pun tersentuh melihat tekad itu,
Meski ia merendah, enggan menamai dengan namanya,
“Konsep ini adalah warisan pendiri bangsa”,
Pasal 33 dan 34 adalah ruhnya,
Keadilan sosial adalah tujuannya.
PKB, partai yang lahir dari rahim kebangkitan,
Kembali mengingatkan pentingnya keberpihakan,
Mengawal kebijakan yang menjemput kesejahteraan,
Dengan kaos itu, mereka berjanji pada rakyat,
Bahwa mandat konstitusi akan terus mereka suarakan.
Selamat Harlah ke-28, wahai PKB,
Jadikan momen ini sebagai pijakan baru,
Mengokohkan dukungan pada kebijakan Presiden,
Bukan untuk pujian, tapi demi Indonesia adil makmur,
Di bawah naungan “Prabowonomics”, ekonomi rakyat bangkit.






